Berbalik Arah, Asing Net Sell Saham Rp 0,14 Triliun Senin, di SBN Rp 1,12 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing berbalik mengalir keluar dari pasar saham domestik pada Senin (8/7/2024), dengan mencatatkan net sell Rp 0,14 triliun. Sementara pada Jumat lalu, non-resident masih melakukan pembelian bersih Rp 0,56 triliun di Bursa Efek Indonesia.
Sepanjang Juli ini, asing masih mencatatkan pembelian bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), senilai Rp 2,50 triliun month to date. “Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net sell saham Rp 5,23 triliun,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta pada Senin sore.
Baca Juga
Harga Emas Antam Tidak Bergeser, Dibandrol Rp 1.395.000 per Gram
Mtd, Beli Bersih SBN
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi pada Jumat lalu (5/7/2024). Berbeda dengan hari sebelumnya yang masih net buy Rp 0,28 triliun, non-resident di pasar SBN melakukan penjualan neto Rp 1,12 triliun Jumat lalu.
Namun, secara month to date, asing masih mencatatkan pembelian bersih Rp 0,25 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga Jumat lalu. Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan penjualan bersih Rp 33,70 triliun hingga Jumat lalu.
Baca Juga
Masuk SRBI 10 Pekan, Rupiah Perkasa
Sementara itu, rupiah melanjutkan tren menguat terhadap dolar Amerika Serikat dalam penutupan perdagangan Senin (8/7/2024) sore. Berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup perkasa, menguat 47 poin atau 0,29% ke level Rp 16.265/USD, dibanding posisi perdagangan hari sebelumnya Rp 16.312/USD.
Mata uang Garuda juga menguat terhadap greenback di pasar spot valas yang dipantau Yahoo Finance. Hingga pukul 16.30 WIB, nilai tukar rupiah terapresiasi 25 poin ke Rp 16.250/USD, dibanding hari sebelumnya Rp 16.275/USD.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengungkap, tren positif rupiah dalam tiga hari perdagangan secara beruntun didorong oleh meningkatnya capital inflow ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pekan lalu. Ia mengatakan, permintaan SRBI oleh asing meningkat dibandingkan dengan tren Surat Berharga Negara (SBN).
"Karena imbal hasil yang ditawarkan SRBI lebih tinggi dari SBN. Bahkan hingga 7% (lebih)," kata Nanang kepada Investortrust.id, di Jakarta, Senin (8/7/2024).
BI, lanjut Nanang, mencatat adanya net buy oleh investor asing pada SRBI terjadi dalam 10 pekan beruntun. Total nilainya lebih dari Rp 60 triliun.
Pergerakan rupiah, lanjut dia, juga dipengaruhi faktor lain terutama dari AS, terkait kebijakan suku bunga acuan Federal Rerserve (The Fed). "Hal itu seiring prospek suku bunga acuan The Fed yang diproyeksikan akan terjadi pelonggaran (penurunan) sebanyak dua kali di tahun ini. Tepatnya pada September dan Desember," sambungnya.
Sementara itu, pagi tadi, BI merilis hasil survei konsumen terhadap kondisi perekonomian RI secara keseluruhan pada Juni 2024. Data menunjukkan optimisme masyarakat Indonesia cenderung menurun.
Hal ini tecermin pada laporan Bank Sentral Indonesia yang mengungkapkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sedang menurun. IKK Indonesia turun dari 127,7 pada bulan April menjadi 125,2 pada Mei 2024, dan berlanjut bulan berikutnya.
"Indeks Keyakinan Konsumen Juni 2024 sebesar 123,3. Namun, ini masih berada pada level optimistis (>100)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, 8 Juli 2024.
Sedangkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkirakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 akan ditutup dengan defisit lebih lebar. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut defisit diperkirakan mencapai Rp 609,7 triliun, lebih tinggi dari target defisit Rp 522,8 triliun.
“Defisit total mencapai Rp 609,7 triliun. Ini artinya terjadi kenaikan defisit dari 2,29% ke 2,7% dari PDB (produk domestik bruto),” kata Sri Mulyani di ruang Badan Anggaran (Banggar), Jakarta, Senin (8/7/2024).
Sri Mulyani mengatakan, melebarnya defisit dikarenakan kombinasi pendapatan negara yang terkoreksi dan belanja yang meningkat. Ada beberapa penerimaan yang akan terkontraksi, misalnya dari pendapatan negara bukan pajak (PNBP), pajak, dan bea cukai.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, untuk membiayai tambahan defisit sekitar Rp 80,8 triliun, pemerintah akan menarik penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan penerbitan SBN. “Untuk membiayai tambahan defisit yaitu Rp 80,8 triliun akan dibiayai melalui tambahan penggunaan SAL Rp 100 triliun dan penerbitan SBN yang tetap rendah,” kata dia.

