Bahlil: Korea Tanam Modal Rp 200 Triliun, Investasi Tak Hanya Dikuasai Satu Negara
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menjelaskan kemitraan Indonesia dengan Korea Selatan telah menghasilkan investasi mencapai US$ 14 miliar atau setara lebih dari Rp 200 triliun, selama 2019 hingga 2023. Modal yang ditanam di Tanah Air ini lebih banyak mengarah ke sektor hilirisasi.
“Investasi ini lebih banyak mengarah ke sektor hilirisasi, sesuai arahan Bapak Presiden kepada kami, agar investasi harus inklusif. Investasi tidak hanya dikuasai satu negara tertentu,” kata Bahlil saat pembukaan pabrik baterai mobil listrik dan ekosistemnya di Karawang, Jawa Barat, Rabu (3/7/2024).
Baca Juga
Penanaman Modal Asing Melonjak 148,96% Era Pemerintahan Jokowi
Bahlil mengatakan, investasi ekosistem pabrik baterai mobil listrik tersebut mencapai US$ 11 hingga 12 miliar. Dia mengklaim investasi ini terbesar untuk kategori ekosistem industri di Indonesia.
“Atas dukungan dari Pak Erick (Menteri BUMN Erick Thohir), semua tahapan ekosistem mulai dari mining, smelter, katoda, baterai sel, sampai ke mobil semua sudah diteken,” kata dia.
Bahlil mengatakan, konsorsium Hyundai dan LG ini telah menandatangani investasi tahap pertama yaitu sebesar US$ 1,2 hingga 1,5 miliar. Tahap kedua, nilai investasi yang akan digulirkan sebesar US$ 2 miliar.
Pabrik Kimia, 2025 Produksi
Selain ekosistem pabrik baterai listrik, investasi yang dilakukan perusahaan Korea Selatan yaitu di bidang industri kimia. Bahlil mengatakan perusahaan asal Korea Selatan, Lotte Chemical, menginvestasikan US$ 4 miliar untuk pembangunan pabrik di Cilegon, Banten. Meski sempat mangkrak pada 2016, kata Menteri Bahlil, pembangunan pabrik itu kini sudah mulai 'selesai'.
“Jadi Maret 2025 sudah melakukan produksi,” kata dia.
Baca Juga
Powell Akui Inflasi AS Tren Turun, Rupiah Rebound Rabu Hari ini
Investasi lainnya yang dikembangkan Korea Selatan yaitu hilirisasi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Investasi berupa pembangunan pabrik kaca oleh perusahaan asal Korea Selatan, KCC Glass Corporation. Pabrik tersebut difungsikan untuk memberi nilai tambah pasir silika dari Indonesia.
“Pabrik juga akan mulai produksi di Agustus tahun ini,” kata dia.

