Harapan Penurunan FFR Meningkat, Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.354/USD
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa (25/6/2024) pagi, ke level Rp 16.354/USD. Hal ini seiring pelemahan indeks dolar AS lantaran ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) meningkat.
Kurs mata uang Garuda terhadap greenback tercatat kembali menguat 26 poin atau 0,16% hingga pukul 09.57 WIB dibanding kemarin. Namun, secara year to date berdasarkan data RTI, rupiah masih melemah 6,23%.
Baca Juga
Sementara itu, merujuk data Yahoo Finance, indeks dolar tercatat melemah 0,03% ke 105,45. Namun, secata ytd, indeks dolar masih menguat 3,18% dibanding pada 2 Januari lalu di level 102,2.
Penurunan indeks dolar ini dipengaruhi meningkatnya harapan penurunan bunga acuan oleh Bank Sentral AS, The Fed. "Gubernur The Fed San Fransisco Mary Daly mengatakan The Fed siap merespons kondisi pasar tenaga kerja yang melemah dan inflasi yang stagnan di atas target, meski menurutnya inflasi belum akan berubah saat ini. Berdasarkan survei di pasar, probabilitas pemangkasan suku bunga di September 2024 meningkat ke level 70%," kata analis Cheril Tanuwijaya kepada Investortrust, saat membeberkan hasil analisis Tim Riset InvestasiKu, Jakarta, Selasa (25/6/2024).
Hari ini, lanjut dia, pelaku pasar akan mencermati komentar anggota The Fed Michelle Bowman. Selain itu, rilis indeks keyakinan konsumen periode Juni 2024 di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu.
Di Eropa, pelaku pasar masih mencermati berlanjutnya pemangkasan suku bunga di berbagai negara Eropa pekan ini. Selain itu, ada harapan penurunan ketegangan hubungan bilateral Eropa dan Tiongkok.
"Saat ini, kedua pihak tengah melakukan negosiasi, dengan harapan dibatalkannya wacana kenaikan tarif impor hingga 38% atas kendaraan listrik Tiongkok sebelum 4 Juli 2024. Meski demikian, pihak Eropa masih terus melakukan investigasi atas subsidi mobil listrik Tiongkok," paparnya.
Sedangkan harapan investor pada stimulus ekonomi yang akan diluncurkan Bank Sentral Cina, People's Bank of China (PBoC), memudar. Berdasarkan data Reuters, secara month to date (mtd), dana investor asing keluar dari Tiongkok sekitar 33 miliar CNY.
Dorong Penguatan Rupiah
Sementara itu, sebagaimana dilansir Antara, kurs rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa ini dibuka menguat, di tengah membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko. Pada awal perdagangan, rupiah naik 22 poin atau 0,14% menjadi Rp 16.372/USD, dari sebelumnya sebesar Rp 16.394/USD.
"Sentimen pasar terhadap aset berisiko terlihat membaik pagi ini. Indeks saham Asia (seperti indeks STI Singapura, Red) terlihat menguat pagi ini," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra kepada Antara di Jakarta.
Menurut Ariston, sentimen positif pasar tersebut bisa membantu mendorong penguatan rupiah terhadap dolar AS hari ini. Sentimen pasar yang positif menunjukkan pelaku pasar masih memandang layak berinvestasi di tengah kondisi pasar keuangan global bergejolak belakangan ini.
Ia memperkirakan peluang penguatan ke arah Rp 16.330/USD, dengan tetap ada potensi pelemahan ke arah Rp 16.400/USD.
Baca Juga

