Ekspor ke China Turun, BPS Sebut Ada 'Shifting' Ekspor ke Amerika Serikat
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bukti adanya pergeseran pasar ekspor Indonesia. Itu tercermin dari data ekspor Indonesia ke China yang anjlok secara nilai hingga 11,95% sepanjang Januari hingga Mei 2024 (cumulative to cumulative/ctc).
“Komoditas yang utamanya diekspor besi baja dan bahan bakar mineral,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah, di kantor BPS, Jakarta, Rabu (19/6/2024).
Penurunan nilai ekspor ke China karena tiga komoditas utama ekspor tersebut mengalami penurunan tingkat serapan. Besi dan baja anjlok 5,02% (ctc), bahan bakar mineral anjlok hingga 27,78% (ctc) serta ekspor lemak dan minyak hewani/nabati yang terkontraksi sebesar 21,72% (ctc).
Selain secara nilai, Habibullah mengatakan volume ekspor Indonesia ke China juga mencatatkan penurunan. Selama Januari-Mei 2024 total ekspor ke China tercatat terkontraksi 6,26%. Pada periode ini, ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat US$ 4,73 miliar.
Baca Juga
Kinerja Ekspor Komoditas Andalan Indonesia: Batu Bara dan CPO Lesu, Besi dan Baja Naik
Meski demikian, Habibullah mengatakan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) justru menunjukkan kenaikan secara nilai hingga 8,15% ctc dan secara volume mencapai 29,74%.
Habibullah mengatakan ekspor Indonesia ke AS berasal dari komoditas mesin dan perlengkapan elektrik yang volumenya melonjak 119,42% serta pakaian dan aksesorisnya/rajutan senilai 11,22%. Secara nilainya, komoditas tersebut masing-masing mengalami kenaikan sebesar 4,65% dan 3,45%.
Meski begitu, nilai perdagangan Indonesia ke China masih lebih besar ketimbang AS. Selama Januari hingga Mei, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China mencapai US$ 22,37 miliar sementara menuju AS tercatat US$ 10,22 miliar.
Belum optimalnya nilai ekspor ini telah terbaca pemerintah. Ketiadaan perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) dengan Amerika Serikat (AS) menjadi alasan mengapa Indonesia tertinggal dari Vietnam dan Thailand dalam shifting ekspor. Indonesia tak dapat menikmati “kue” hasil ekspor ini.
Baca Juga
Inilah Komoditas Ekspor Penopang Utama Kenaikan Surplus Neraca Perdagangan
“Pergeseran supply chain memang terjadi. Hanya memang kita karena belum punya FTA, yang diuntungkan masih Vietnam, Thailand, dan beberapa negara lain di Asean. Jadi kita siapkan (perjanjian) perdagangan dengan AS,” kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, di Istana Negara, Jakarta, Jumat (14/6/2024).
Airlangga mengatakan perdagangan Asean ke AS meningkat pada kuartal-1 2024. Angkanya melampaui perdagangan China ke Paman Sam.
Pria yang juga menjabat Ketua Umum Partai Golkar ini mengatakan salah satu pilar yang menghambat FTA dengan AS yaitu pilar perdagangan atau trade pillars. Dia mengatakan baru 5 dari 10 pilar yang masuk dalam pembahasan.

