WWF pun Punya Global Islamic Finance Program
JAKARTA, Investortrust.id - World Wildlife Fund (WWF) kembangkan Global Islamic Finance Program karena mempertimbangkan pendanaan untuk proyek-proyek yang nature-based solution masih sangat terbatas. Dengan adanya Islamic financing ini diharapkan akan membuka peluang pengembangan usaha berkelanjutan di Tanah Air, demikian disampaikan Sustainable Finance Lead WWF Indonesia, Rizkia Sari Yudawinata.
“Karena salah satu mandat dari sustainable finance itu bagaimana kita bisa menangkap peluang melalui financing maupun dari reallocation financing,” ujar Rizkia Sari Yudawinata dalam media briefing di Artotel Gelora Senayan, Jakarta, Rabu (19/6/2024).
Dia juga menyampaikan, Global Islamic Finance Program (GIFP) akan mendorong sektor tertentu untuk menstimulasi percepatan menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Kenapa kami mengembangkan Global Islamic Finance Program? Karena kami melihat bahwa pendanaan yang dibutuhkan untuk proyek-proyek yang nature-based solution ini masih sangat terbatas. Sehingga Islamic Finance bisa mencoba menangkap opportunities di sini dan bisa membuka peluang-peluang bagi Indonesia,” imbuh Rizkia Sari.
Chief Conservation Officer WWF Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki menambahkan, dengan adanya GIFP ini perbankan syariah bisa menjadi salah satu partner bagi para pelaku usaha untuk mencapai NZE 2060.
“Ini juga bisa memberikan informasi kepada teman-teman industri dan pelaku bisnis serta pelaku usaha bahwa memang bisa didukung oleh Islamic Bank (perbankan syariah) dalam pengembangan usahanya. Dan juga bahwa Islamic Bank mendukung green financing,” tambah Dewi.
Pada Desember 2023, COP28 yang diselenggarakan oleh WWF International dan Ajman University-Centre for Excellence in Islamic Finance (AU-CEIF), bekerja sama dengan Emirates Nature-WWF di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) menjadi satu langkah pasti menuju GIFP untuk Iklim, Alam dan Pembangunan yang mana telah terbentuknya Komite Penasihat yakni Bank HSBC, Standard Chartered Bank, Komisi Sekuritas Malaysia, dan Simmons & Simmons serta Universitas Ajman dan WWF.
GIFP bertujuan untuk merancang jalur untuk menyediakan solusi keuangan campuran yang selanjutnya memobilisasi modal syariah publik dan swasta untuk mencapai tujuan dengan menciptakan ekosistem finansial Solusi Berbasis Alam (nature-based solution) yang bankable.
Target awal GIFP adalah US$1,5 miliar, dengan tujuan jangka panjang untuk memobilisasi modal Islam antara US$30-100 miliar setiap tahunnya. Implementasi program secara bertahap akan dimulai pada Kuartal IV-2024.
Baca Juga
Incar Generasi Z, Bank Muamalat Beri Edukasi Perencanaan Keuangan Syariah
Sebagai catatan pula, dalam acara Seminar Nasional Sharia Economic & Financial Outlook (ShEFO) 2024, Juda Agung memprediksi pertumbuhan ekonomi syariah tembus di angka 5,5% dengan adanya dukungan pembiayaan perbankan syariah.
“Dukungan dari pembiayaan perbankan syariah diperkirakan terus tumbuh pada kisaran 10-12%,” kata Juda Agung mengutip dari investortrust.id saat memberi paparan di ShEFO 2024, yang digelar daring, Senin (26/2/2024) lalu.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut dukungan ekonomi syariah di Indonesia ke industri halal belum maksimal.
“Belum optimalnya dukungan ekonomi syariah terhadap industri halal menyebabkan belum optimalnya multiplier effect dari industri syariah,” tandas Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen (PEPK) OJK, Friderica Widyasari Dewi, saat memberi paparan di ShEFO 2024, yang digelar daring, dikutip Investortrust.
Selain dukungan ekosistem, faktor sumber daya manusia (SDM) juga menjadi sorotan Friderica. Dia mengatakan SDM untuk ekosistem ekonomi syariah masih belum sesuai kebutuhan. “Kemudian kapasitas riset dan pengembangan serta inovasi produk keuangan syariah yang masih terbatas, dan masih belum optimalnya literasi dan inklusi syariah di Indonesia,” tambah Friderica.
Pada Maret 2024 lalu, Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rahmatina Awaliah Kasri mengatakan, perkembangan ekonomi syariah tersebut didukung oleh berkembangnya ekosistem keuangan syariah nasional, disokong dari sisi supply dan demand.
“Jadi kalau kita lihat ekosistemnya dari segi permintaan tidak hanya dari pasar domestik, tetapi juga dari pasar global,” terang Rahmatina beberapa waktu lalu.
Sementara dari sisi supply, lanjut dia, ada tiga sektor utama yang mendorong ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, antara lain keuangan komersial syariah di perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non bank (IKNB) syariah. Kemudian, sektor social finance. Lalu, industri halal.
“Ini dilakukan oleh pelaku usaha yang sifatnya mulai dari ultra mikro sampai korporasi itu semuanya ada dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah Indonesia, termasuk komunitas keislaman,” ucap Rahmatina.
Menurutnya, ekosistem syariah ini juga didukung oleh infrastruktur, antara lain human capital, research and development, kemudian regulasi, branding, dan teknologi digital serta awareness dan perlindungan konsumen. “Jadi ekosistem inilah yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah yang semakin besar,” jelas Rahmatina.
Baca Juga
Di Tengah Kondisi yang Terus Berubah, Perbankan Syariah Disebut Sukses Bertransformasi
Adapun menurut Rahmatina, kontribusi usaha syariah dan pembiayaan syariah terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2022 mencapai 46,02% atau setara dengan Rp9.000 triliun lebih. Ini artinya sektor ekonomi dan keuangan syariah ini memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian nasional.
Terkait industri halal, kata Rahmatina, sudah lebih dari satu juta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang melakukan sertifikasi halal self declare, dengan jumlah kurang lebih mencapai 3 juta. “Sehingga ini angka yang sangat besar dan terus kita dorong untuk mencapai target 10 juta penerbitan sertifikasi halal,” papar dia.
Sementara, menurut Rahmatina, total ekspor produk halal juga terus meningkat, pada 2022 mencapai US$15,87 miliar, kemudian untuk keuangan syariah total asetnya pada 2023 mencapai Rp2.452,57 triliun atau 10,81% market share dari keuangan nasional.
“Total aset keuangan syariah, di mana market share-nya masih berada di angka 10,81% tetapi ini juga masih sangat besar room of improvement market share keuangan syariah,” pungkas dia.

