Waspadai Konstelasi Ekonomi Era Pertikaian Sengit AS-Cina
Oleh Tri Winarno,
mantan ekonom senior
Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Setelah Amerika Serikat memberlakukan tarif impor baru terhadap barang-barang Tiongkok, dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tampaknya berada di ambang perang ekonomi terbuka. Negara-negara berkembang pun berada dalam bahaya terjebak dalam baku tembak.
Selain risiko negara berkembang akan terkena sanksi atau pembatasan perdagangan lainnya jika salah satu negara adidaya menganggap mereka membantu negara lain, ketegangan perdagangan Tiongkok-Amerika juga mengikis nilai keunggulan komparatifnya, seperti tenaga kerja dan tanah yang murah. Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut diperlukan pengelolaan tata ekonomi negara yang mumpumi.
Keunggulan komparatif dan kompetitif memang bersifat dinamis, dapat diperoleh atau hilang seiring waktu. Seperti yang diungkapkan oleh Michael Porter dari Harvard pada tahun 1990, “Kemakmuran nasional diciptakan, bukan diwariskan. Ekonomi tidak tumbuh dari kekayaan alam suatu negara, jumlah tenaga kerja, tingkat suku bunga, atau nilai mata uangnya, seperti yang ditegaskan oleh ilmu ekonomi klasik.” Sebaliknya, daya saing suatu perekonomian “bergantung pada kapasitas industri dalam berinovasi dan melakukan upgrading.”
Proteksi Industri Dalam Negeri
Ketika semakin banyak negara yang menerapkan kebijakan industri – mulai dari tindakan perlindungan jangka pendek, seperti tarif, hingga inisiatif yang lebih berwawasan ke depan, seperti subsidi yang ditargetkan dan reformasi struktural yang mendalam – kapasitas untuk berinovasi dan melakukan upgrading sangat bergantung pada kemampuan negara untuk bekerja dengan pasar untuk meningkatkan daya saing. Hal ini memberikan tantangan yang sama besarnya bagi negara-negara maju, dibandingkan dengan negara-negara berkembang.
Contohnya Eropa, yang terpaksa memikirkan kembali model bisnisnya – yaitu menjual produk-produk teknik berkualitas tinggi – setelah invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Ketika rantai pasokan terganggu, biaya energi dan inflasi melonjak, ketergantungan Eropa pada pihak lain untuk barang-barang yang penting, termasuk bahan baku untuk proses produksinya, telah menjadi beban ekonomi yang sangat besar. Ditambah lagi dengan semakin besarnya dominasi Tiongkok dalam kendaraan listrik, Eropa semakin khawatir akan daya saingnya di masa depan.
Yang pasti, banyak negara di Eropa yang masih memiliki daya saing tinggi: Eropa mendominasi peringkat 20 besar dalam Peringkat Daya Saing Dunia 2023 yang diterbitkan oleh International Institute for Management Development, dengan Denmark, Irlandia, dan Swiss sebagai yang terdepan. Namun, peringkat negara-negara besar di Eropa mengalami penurunan. Jerman turun tujuh peringkat antara tahun 2022 dan 2023, ke ranking 22, dan Prancis turun lima peringkat, ke 33.
Salah satu masalahnya, seperti yang diungkapkan dalam laporan McKinsey Global Institute, meski Eropa memimpin dalam hal industri yang berlanjutan dan inklusivitas, PDB per kapita (diukur dengan paritas daya beli) masih tertinggal. Pada tahun 2022, angka tersebut 27% lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, dengan sekitar separuh perbedaan tersebut disebabkan oleh norma budaya – masyarakat Eropa bekerja dengan jam kerja per kapita yang lebih sedikit sepanjang hidup mereka – dan separuh lainnya disebabkan oleh perbedaan tingkat produktivitas. Peningkatan produktivitas kini menjadi perhatian utama para pembuat kebijakan di Eropa dan sebagian harus diatasi melalui pengembangan industri teknologi tinggi.
Penelitian dan Pengembangan 3,5% PDB
Pendekatan ini tentu berhasil bagi AS, yang membelanjakan 3,5% PDB-nya untuk penelitian dan pengembangan -- jumlah yang lebih kecil dibandingkan Korea Selatan (4,9%) dan Israel (5,6%) --, namun secara signifikan lebih besar dibandingkan Tiongkok (2,4%) dan negara-negara Eropa (2,2%).
Semua negara-negara tersebut mencurahkan perhatian besar pada penelitian dan pengembangan di bidang-bidang strategis seperti kecerdasan buatan, teknologi ramah lingkungan, dan komputasi kuantum. Yang menonjol dari AS adalah, meski pemerintah menyediakan pendanaan dan insentif, salah satunya melalui Inflation Reduction Act tahun 2022, sektor swastalah yang mendorong rencana investasi sebesar US$ 400-500 miliar dalam penelitian dan pengembangan selama dekade berikutnya.
Sebagaimana dicatat dalam laporan Boston Consulting Group, penelitian dan pengembangan adalah bagian dari “siklus inovasi yang baik” yang menopang kepemimpinan teknologi Amerika. Misalnya, AS mendominasi 46% pasar global untuk desain semikonduktor.
Berkat teknologi canggihnya, industri semikonduktor AS memiliki margin laba kotor sebesar 59%, 11 poin persentase lebih tinggi dibandingkan pesaingnya. Pada tahun 2020, pendapatan semikonduktor AS mencapai US$ 208 miliar, dua kali lipat pendapatan negara peringkat keduanya.
Namun, tidak sembarang orang bisa meniru kesuksesan teknologi tinggi Amerika, yang sebagian disebabkan oleh pasar modalnya yang besar dan dinamis. Pada tahun 2022, total kapitalisasi pasar saham AS 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan Eropa. Terhadap produk domestik bruto (PDB), total nilai pasar di AS melebihi 158% tahun 2022, lebih rendah dari Taiwan (195% dari PDB), namun lebih tinggi dari negara-negara lain, termasuk Tiongkok (65,4%), Jepang (126%), Jerman ( 45,5%), dan India (103,7%).
Baca Juga
Dengan pasar modalnya yang dalam, Amerika mempunyai posisi yang unggul untuk menghasilkan pendanaan bagi penelitian dan pengembangan yang berisiko tinggi dan, yang lebih penting, memberi penghargaan dan mempertahankan talenta. Negara-negara lain – termasuk Tiongkok, Uni Eropa, Jepang, dan sebagian besar negara berkembang – tidak dapat bersaing dalam hal ini, terutama karena sistem perbankan mereka masih jauh lebih menghindari risiko.
Menyadari keunggulan komparatif Amerika di sektor teknologi tinggi, Tiongkok berfokus pada membangun kecakapan di bidang teknik dan produksi operasional serta distribusi teknologi menengah, yang membuka jalan menuju persaingan komprehensif dalam skala besar. Sejak tahun 2014, Tiongkok telah memimpin dunia dalam ekspor barang-barang berteknologi tinggi, menguasai lebih dari 30% pangsa pasar global. Sejak tahun 2000, kontribusinya terhadap nilai tambah bruto meningkat tiga kali lipat.
Baca Juga
Impor China dan India Meningkat, Saham Batubara masih Menggiurkan
Bagi negara-negara berkembang, hal ini berarti akan sangat sulit untuk bersaing di industri-industri berteknologi menengah, tidak hanya di sektor-sektor teknologi tinggi yang didominasi oleh negara-negara maju (dan, semakin banyak, Tiongkok). Ditambah dengan terbatasnya kapasitas negara-negara tersebut untuk membiayai investasi dan ketergantungan pada akses terhadap pasar global atau regional untuk mencapai skala ekonomi, maka tata kelola ekonomi ke depan menjadi semakin menantang.
Beberapa prioritas sudah jelas. Untuk mencapai peningkatan teknologi, negara-negara berkembang seperti Indonesia harus berinvestasi sebanyak mungkin dalam infrastruktur dan pendidikan digital, serta proyek-proyek yang terkait dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. Untuk mengatasi meningkatnya proteksionisme di antara negara-negara besar, mereka kemungkinan besar juga akan meningkatkan dukungan terhadap produksi dalam negeri, bahkan jika hal ini berarti akan melanggengkan fragmentasi pasar.
Namun secara keseluruhan, kita mungkin akan melihat lebih banyak eksperimen dalam strategi pembangunan di tahun-tahun mendatang. Negara-negara berkembang hanya perlu berharap bahwa AS dan Tiongkok bisa mencapai kesepakatan besar, sebelum persaingan mereka meningkat menjadi konflik. Karena, kalautidak, perkembangan ekonomi global ke depan akan semakin suram.
Banyuwangi, 12 June 2024

