Ekonom DBS: Pertumbuhan 8% Perlu Cermati Modal Finansial, Fisik, dan Manusia
JAKARTA, investortrust.id - Visi Indonesia Emas 2045 menjadi salah satu topik ekonomi jangka panjang pemerintah Indonesia. Pada tahun itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8%.
Chief Economist Bank DBS Taimur Baig menyebut target tersebut tidak akan mudah dicapai. Sebab, Indonesia memiliki wilayah yang luas.
“Sulit bagi perekonomian yang sangat besar untuk tumbuh secepat itu. Dan kita berbicara mengenai PDB senilai lebih dari US$ 1 triliun,” kata Taimur, saat DBS: Crafting a Sustainable Future Towards Golden Indonesia 2045 and ESG Excellence, di Jakarta, Selasa (21/5/2024).
Taimur mengatakan dengan pertumbuhan rata-rata 5% dalam dua dekade terakhir, Indonesia memerlukan ekspansi dan kapasitas produksi dalam jumlah besar untuk tumbuh. Tapi, dia memberi catatan, pertumbuhan tersebut dijalani tanpa distorsi makroekonomi yang luas. Kondisi tersebut dapat terlihat pada ekonomi Asia pada 1990-an.
“Pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat, mengingat kapasitasnya, akan meningkatkan impor dan defisit transaksi berjalan yang sangat besar. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya inflasi tinggi,” kata dia.
Baca Juga
Sri Mulyani: Pertumbuhan Ekonomi 6-8% untuk Gapai Visi Indonesia Emas 2045
Selain itu, kata Taimur, pertumbuhan ekonomi yang cepat dapat menyebabkan pasar aset overheating dan gelembung ekuitas di sektor properti. “Pertumbuhan yang sangat kuat diikuti oleh arus masuk yang kuat menciptakan komplikasi dalam mengelola arus masuk dan guncangan eksternal yaitu suku bunga Amerika Serikat,” ucap dia.
Pertumbuhan berkelanjutan
Taimur mengatakan Indonesia memerlukan lompatan pertumbuhan ekonomi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8%. Dia mengatakan perlu perencanaan realisasi investasi yang belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia.
“Ini akan menjadi pekerjaan yang sangat besar, bukan 2 tahun, 5 tahun, tetapi butuh waktu 10-15 tahun untuk membangun infrastruktur,” kata dia.
Selain infrastruktur penunjang berupa transportasi, manufaktur, listrik, Taimur juga menyinggung investasi di bidang sumber daya manusia (SDM). Dia mengatakan investasi untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja menjadi bagian penting lainnya.
“Jadi kita memerlukan konsensus nasional mengenai apa yang perlu dilakukan dalam 20 tahun ke depan, yang tidak akan tergantung pada siklus politik lima tahunan,” kata dia.
Menurut Taimur, perlu kesepakatan antara pelaku ekonomi dan politik untuk membuka cakrawala yang luas mengenai kemajuan. Ini juga perlu ditunjang dengan kebijakan yang ramah investor dan pendidikan yang merata.
“Dengan kata lain, kristal poin dari semuanya yaitu perlunya fokus besar pada modal finansial, fisik, dan manusia. Ketiganya perlu dicermati secara bersamaan jika memang masa depan pertumbuhan sebesar 8% ingin diwujudkan,” kata dia.

