S&P Global Ratings: Indonesia Berada di Jalur Pertumbuhan yang Stabil Hingga 2030
JAKARTA, Investortrust.id - Pascatahun 2024, perekonomian Indonesia akan menuai manfaat dari pertumbuhan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja serta keuntungan dari investasi langsung yang berasal dari dalam dan luar negeri, sehingga menempatkan Indonesia pada jalur pertumbuhan yang stabil hingga tahun 2030.
Hal ini disampaikan oleh Senior Economist S&P Global RatingsVishrut Rana dalam kesempatan Seminar Annual Indonesia Credit Spotlight bertajuk “Tren Kredit di Bawah Pemerintahan Baru” yang digelar oleh S&P Global Ratings, dan lembaga pemeringkat kredit Indonesia Pefindo di Jakarta, Rabu (15/5/2024).
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama mencatatkan capaian yang begitu tangguh didukung oleh belanja pemerintah yang kuat,” ujar Vishrut Rana. Dalam kesempatan yang sama ia juga mengingatkan bahwa untuk sisa tahun 2024, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih lambat dari trennya, karena siklus permintaan domestik yang lebih lemah dan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Sementara itu pertumbuhan pendapatan dan keputusan belanja yang penuh kehati-hatian oleh pemerintah Indonesia dinilai akan memberikan manfaat berupa kinerja fiskal Indonesia yang membaik.
Baca Juga
Pefindo Optimistis Penerbitan Surat Utang Korporasi Semarak, Ini Katalisnya
Apalagi, seperti dikatakan Direktur Sovereign Ratings S&P Global Ratings Andrew Wood, kondisi eksternal Indonesia saat ini berada pada kondisi yang lebih kuat dibandingkan beberapa tahun yang lalu. “Kembalinya pertumbuhan ekspor yang lebih cepat dapat menjaga momentum pertumbuhan akan tetap berjalan,” ujarnya.
Di sektor perbankan, Direktur Financial Institutions Ratings S&P Global Ratings Ivan Tan punya optimisme yang baik karena bank-bank di Indonesia dianggap telah menunjukkan pemulihan yang kuat pascapandemi, dan saat ini menikmati profitabilitas yang juga cukup apik di tengah rasio permodalan yang sehat. Namun demikian, ujar Tan, masih terdapat tantangan pada kualitas aset yang mungkin akan menjadi tantangan utama dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Berbeda dengan perbankan, industri pembiayaan justru punya tantangan di sisi ketahanan menyusul meningkatnya risiko dan tingkat volatilitas makroekonomi. Para perusahan pembiayaan, kata Kepala Divisi Pemeringkatan Sektor Keuangan Pefindo, Danan Dito, harus berhadapan dengan suku bunga yang lebih tinggi dan prospek pertumbuhan yang lebih rendah. “Namun, pemulihan penjualan unit otomotif pasca pandemi, keinginan perbankan untuk mendanai industri pembiayaan, dan marjin yang relatif tinggi menjadi faktor penunjang terhadap kondisi fundamental perusahaan pembiayaan di Indonesia, sehingga rasio keuangan seharusnya tetap terjaga,” tutur Dito.
Seputar pendanaan dari perbankan untuk korporasi, kredit korporasi lokal diperkirakan akan tetap stabil di tengah tantangan seperti pelemahan rupiah dan kenaikan suku bunga. Kebijakan ekonomi yang lebih jelas setelah ditetapkannya Prabowo sebagai presiden terpilih, dan transisi pasca pemilu yang lancar menurut Kepala Divisi Pemeringkatan Pefindo Yogie Perdana akan memberikan stabilitas makroekonomi dan mendukung kondisi kredit bagi perusahaan-perusahaan lokal.
Namun demikian, perusahaan-perusahaan di Indonesia diprediksi akan memasuki periode pertumbuhan yang lebih lambat dan pengembalian modal yang relatif lebih rendah selama 5 tahun ke depan. Biaya dana di tengah situasi suku bunga “Higher-for-Longer” akan membebani profitabilitas bersih di sektor padat modal, kata Managing Director Corporate Ratings S&P Global Ratings Xavier Jean.
Baca Juga
Penerbitan Obligasi Turun per Kuartal I-2024, Pefindo Ungkap Faktor Pemicunya
Untungnya, lanjut Xavier, perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak kehilangan minatnya terhadap belanja perusahaan, bahkan ketika pertumbuhan pendapatan dan laba mengalami perlambatan. “Kami sedang mengamati dimulainya siklus belanja baru, terutama di sektor-sektor yang terkena risiko transisi dan deplesi,” ujar Xavier.
Keuangan Berkelanjutan
Tren keuangan berkelanjutan terus meningkat di Indonesia. Sayangnya, kata Head of Sustainable Finance Asia-Pacific S&P Global Ratings Bertrand Jabouley, dalam konteks Indonesia, transisi energi di tengah perubahan taksonomi Indonesia yang terbaru membuat upaya penerapan keuangan berkelanjutan juga punya sedikit tantangan. Pasalnya, kata Bernard, kontribusi industri batubara terhadap kekayaan nasional, seluruh lapangan kerja dan masyarakat yang bergantung pada rantai nilainya (value chain) masih cukup besar.
Sementara itu Managing Director Infrastructure Ratings S&P Global Ratings Abhishek Dangra menyampaikan, Indonesia perlu diarahkan pada kebijakan untuk mengatasi subsidi listrik, iming-iming harga batu bara yang murah, dan keengganan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik.
Menurut Abhisek, revisi rencana transisi energi Indonesia bergantung pada peningkatan tajam kapasitas pembangkit tenaga surya dan gas, serta sejumlah kapasitas pembangkit tenaga nuklir untuk menggantikan batu bara.
“Rencana-rencana ini belum tercapai dalam skala besar, terutama dengan dana yang dialokasikan hingga saat ini yang hanya merupakan sebagian kecil dari total investasi yang diperlukan untuk tujuan transisi,” pungkasnya.
Seminar yang diadakan di Soehanna Hall - The Energy Building Jakarta ini dilangsungkan setelah 1 (satu) tahun S&P Global Ratings dan Pefindo mengumumkan kepemilikan 15% saham Pefindo oleh S&P Global Ratings.

