Ekonom Bank Mandiri: Harga Komoditas Terkerek, Ruang Fiskal Akan Melonggar
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Makroekonomi dan Riset Pasar Finansial Bank Mandiri Dian Ayu Yustina memproyeksikan, ruang fiskal pemerintah yang sempat diperkirakan menyempit akan kembali longgar.
Dia mengatakan potensi ini muncul karena kenaikan harga komoditas yang lebih tinggi beberapa pekan belakangan.
“Kita melihat perkembangan, outlook harga komoditas yang lebih tinggi daripada awal tahun, akhir-akhir minggu ini ada kenaikan. Ini arusnya bisa menopang dari sisi penerimaan,” kata Dian di acara Mandiri Macroeconomic Outlook, yang digelar daring, Selasa (14/5/2025).
Dian mengatakan faktor kenaikan harga komoditas menopang pendapatan pemerintah pada tahun lalu.
Berdasarkan data, beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada tahun lalu mulai menunjukkan kenaikan. Komoditas unggulan Indonesia seperti Crude Palm Oil (CPO), batubara, dan nikel kembali mengalami kenaikan harga.
Baca Juga
Ekonom Bank Mandiri Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh 5,06% Tahun 2024
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan harga CPO yang sempat anjlok 15,8% pada 2023 per 13 Mei 2024 kembali merangkak naik 3,6% dengan harga US$ 826,4 per metrik ton. Kondisi serupa juga dialami batubara.
“Batu bara tadinya di turun cukup dalam (di 2023) per 13 Mei 2024 turunnya hanya -1,4%. Jadi kalau dibandingkan, batubara itu kembali ke arah US$ 144,4 per metrik ton,” kata Andry.
Andry mengatakan nikel juga mengalami kenaikan. Harga nikel naik 14,3% menjadi US$ 18.784 per metrik ton. Sementara itu, komoditas emas naik 13,6% menjadi 2.344,4 per ons.
“Ini karena sentimen ketidakpastian tadi, dan banyaknya sentral bank yang menumpuk cadangan emas,” ujar dia.
Baca Juga
Masih Resilien, Kredit Perbankan Diyakini Bisa Tumbuh Double Digit di Tahun Ini
Meski komoditas unggulan itu mengalami kenaikan, Andry menyebut, Indonesia juga perlu mewaspadai kenaikan harga minyak mentah dunia. Ini terjadi karena kondisi geopolitik global yang tak menentu.
“Di satu sisi memberikan pressure karena Indonesia importir minyak mentah terutama dari sisi fiskal, kompensasi yang diberikan akan semakin meningkat,” ujar dia.
Andry mengatakan faktor lain yang perlu diwaspadai pemerintah yaitu perkembangan harga pangan. Dia mengatakan faktor perubahan iklim dan biaya logistik dapat membuat komoditas pangan seperti beras, daging sapi, daging ayam mengalami kenaikan.
“Yang turun hanya cabai merah dan cabai rawit,” kata dia.
Selain faktor cuaca, Andry menyebut negara pengekspor beras ke Indonesia juga mengalami tingkat pertumbuhan penduduk yg tinggi dan pertumbuhan penduduk yang tinggi yaitu India dan Vietnam. Ini akan mendorong permintaan akan pangan.
“Mereka biasanya akan mengekspor itu hanya 15% dari total produksi sehingga akan berdampak kepada harga pangan di dalam negeri,” kata dia.
Andry mengatakan perlu adanya mitigasi untuk mengatasi penguatan harga komoditas pangan. Tanpa upaya penanganan, kenaikan harga komoditas akan menggerus daya beli masyarakat.
“Ini akan menggerus daya beli kelompok bawah dan menengah bawah, ini akan terdampak dari kenaikan harga pangan ini,” kata dia.

