Pemberian THR dan Gaji Ke-13 Diharapkan Jaga Pertumbuhan Ekonomi 5,2%
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febrio Kacaribu berharap tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13 untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) di tingkat pusat dan daerah, TNI, Polri, dan pensiunan dapat menjaga ekonomi Indonesia tumbuh 5,2% (yoy) pada tahun ini.
Menurut dia, pemberian THR dan gaji ke-13 tersebut untuk mendorong konsumsi masyarakat melalui belanja aparatur negara dan menjamin transformasi ekonomi terus berlanjut.
“Melalui pemberian THR dan gaji ke-13 dengan tunjangan kinerja 100% diharapkan aktivitas konsumsi masyarakat menguat dan perekonomian Indonesia dapat mencapai 5,2% (yoy) pada tahun 2024, sejalan dengan outlook pemerintah,” kata Febrio dalam keterangan resminya, Senin (18/3/2024).
Febrio berharap pemberian THR dan gaji 13 ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para ASN, TNI, Polri, dan pensiunan agar berdampak positif bagi perekonomian nasional. Febrio mengatakan, selain menjaga pertumbuhan ekonomi, pemberian THR dan gaji ke-13 diharapkan menjadi bentuk apresiasi ASN.
Baca Juga
“Pembayaran THR dan gaji ke-13 yang merupakan bentuk apresiasi Pemerintah kepada aparatur negara secara bertahap mulai disesuaikan sejalan dengan membaiknya kondisi keuangan negara dan kebijakan pemerintah agar ekonomi dapat terus berekspansi,” ujar dia.
Febrio mengatakan pada masa pandemi Covid-19 di tahun 2020 dan 2021, THR dan gaji ke-13 untuk mendapat potongan dan relokasi untuk mengatasi pandemi. Dia mengatakan relokasi THR dan gaji ke-13 diutamakan untuk menjaga daya beli kelompok masyarakat miskin melalui berbagai program bantuan sosial.
Antisipasi risiko global
Meski kondisi keuangan nasional telah membaik, ditunjukkan dengan pemberian THR dan gaji ke-13, Febrio mengatakan pemerintah terus mengantisipasi risiko global. “Pemerintah akan terus mengantisipasi risiko global yang ada untuk memitigasi dampaknya pada ekonomi nasional,” kata dia.
Baca Juga
Febrio mengatakan neraca perdagangan bulan Februari 2024 melanjutkan tren surplus. Pada bulan ini, surplus perdagangan Indonesia mencapai US$ 0,87 miliar. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Februari 2024 mencapai US$ 2,87 miliar.
“Berlanjutnya surplus neraca perdagangan mencerminkan posisi eksternal Indonesia yang masih cukup resilien di tengah gejolak perekonomian global yang masih tinggi,” kata dia.
Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2024 mencapai US$ 19,31 miliar, turun sebesar 9,45% (yoy). Penurunan ini terutama bersumber dari ekspor nonmigas sebesar 10,15% (yoy), akibat penurunan ekspor batu bara, besi dan baja, serta minyak sawit.
“Moderasi harga komoditas dan penurunan volume perdagangan global menjadi penyebab menurunnya ekspor nonmigas Indonesia,” ucap dia.
Baca Juga
Pertimbangkan Global dan Domestik, Begini Prediksi Ekonomi Indonesia di 2024
Secara sektoral, penurunan terjadi pada ekspor produk industri pengolahan sebesar 11,49% (yoy) serta sektor pertambangan dan lainnya sebesar 7,54% (yoy), sementara sektor pertanian tumbuh 16,91% (yoy). Secara kumulatif, total ekspor pada periode Januari–Februari 2024 mencapai US$ 39,80 miliar.
Di sisi lain, impor Indonesia di bulan Februari 2024 tercatat sebesar US$ 18,44 miliar, tumbuh 5,84% (yoy). Peningkatan impor didorong oleh sektor nonmigas yang tumbuh 14,42% (yoy) dan sektor migas sebesar 23,82% (yoy).
“Peningkatan impor juga dipengaruhi oleh kenaikan impor komoditas utama seperti bahan baku plastik, mesin/peralatan mekanis, dan mesin/perlengkapan elektrik,” ujar dia.

