Kemenhub Bangun Terminal Tipe A untuk Perkuat Konektivitas
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perhubungan terus membangun dan mengembangkan infrastruktur transportasi Terminal Tipe A di berbagai daerah, untuk memperkuat konektivitas antarwilayah hingga ke penjuru negeri. Sejak kewenangan pengelolaan Terminal Tipe A dialihkan dari pemerintah daerah dan pusat, Kemenhub terus berupaya meningkatkan fasilitasnya agar serupa dengan standar pelayanan di stasiun atau bandara.
“Pembangunan dan revitalisasi Terminal Tipe A di berbagai wilayah menjadi program prioritas pemerintah dalam rangka memperbaiki layanan angkutan bus antar kota antar provinsi maupun dalam provinsi (AKAP/AKDP),” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam keterangan di Jakarta, Rabu (29/12/2023).
Baca Juga
Direvitalisasi, Terminal Blok M Jadi Kawasan Transit Mulai 2024
Konsep Mixed Use
Menhub mengatakan, pembangunan terminal bus perlu terus dilakukan agar fasilitasnya semakin baik, sehingga masyarakat semakin nyaman untuk menggunakannya. Terminal harus bersih dan nyaman, agar bisa meningkatkan budaya penggunaan transportasi massal.
“Kami membangun terminal yang lebih modern dengan konsep mixed use. Selain sebagai tempat naik turun penumpang, terminal juga menjadi pusat kegiatan sosial, ekonomi, seni, dan budaya masyarakat,” ucap Menhub.
Dengan konsep mixed use, terminal juga memiliki sejumlah fasilitas seperti area komersial, kuliner, pelayanan publik, hotel, tempat belanja, ruang serbaguna, dan lainnya. Selain itu, terintegrasi dengan moda transportasi lainnya.
Baca Juga
Stasiun Solo Balapan Sudah Dilengkapi Fasilitas Pintu Pengenal Wajah
Didanai SBSN
Menhub menjelaskan lebih lanjut, sejumlah Terminal Tipe A dibangun dan direvitalisasi secara merata di sejumlah wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia. Ini di antaranya yaitu Terminal Paya Ilang di Takengon, Aceh; Terminal Amplas di Medan Sumut; Terminal Anak Air di Padang, Sumbar; Terminal Tingkir di Salatiga, Jateng; Terminal Tamanan di Kediri, Terminal Purabaya di Surabaya, Jatim; Terminal Bimoku di NTT; Terminal Banjar di Kalsel; serta Terminal Bolaang Mongondow di Sulut.
Terminal Tipe A dibangun atau direvitalisasi menggunakan skema APBN rupiah murni maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), dan dilakukan secara bertahap. Ini misalnya Terminal Anak Air, yang dibangun menggunakan APBN rupiah murni dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Rp 94,8 miliar. Terminal memiliki luas lahan 27.385 m2 dengan luas bangunan terminal 10.364 m2. Contoh lain, Terminal Amplas yang dibangun dengan pagu anggaran SBSN Rp 42,8 miliar dan diselesaikan melalui skema tahun jamak (multiyears) tahun 2021-2022.
"Sedangkan Pembangunan Terminal Tamanan di Kediri terbagi dalam III tahap. Tahap I dibangun pada 2020 dengan biaya Rp 12,5 miliar, tahap II pada 2021 dengan biaya Rp 7,6 miliar, serta tahap III pada 2022 dengan biaya sebesar Rp 4,85 miliar," imbuhnya.

