Neraca Pembayaran Indonesia Membaik, Rupiah Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III-2023 membaik, di tengah meningkatnya ketidakpastian perekonomian global. Sementara itu, rupiah pada Selasa pagi (21/11/2023) melanjutkan penguatan, seiring meredanya kenaikan inflasi Amerika Serikat. Federal Reserve (The Fed) diperkirakan tidak akan menaikkan lagi suku bunga acuan AS dan kemungkinan negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu akan menghadapi resesi.
"NPI pada triwulan III-2023 menunjukkan perbaikan signifikan dengan mencatatkan defisit 1,5 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar 7,4 miliar dolar AS. Kondisi tersebut ditopang oleh defisit neraca transaksi berjalan dan transaksi modal dan finansial yang membaik," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, Jakarta, Selasa pagi (21/11/2023).
Baca Juga
Pemerintah Terbitkan Permen Soal Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam
Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2023 tercatat tetap tinggi sebesar 134,9 miliar dolar AS. Jumlah ini setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Kurs Rupiah Rp 15.420/US$
Sementara itu, nilai tukar mata uang Garuda pada Selasa pagi (21/11/2023) menguat terhadap dolar AS sebesar 0,16% atau 25 poin dari hari sebelumnya. Kurs rupiah menjadi Rp 15.420 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 9.58 WIB.
Baca Juga
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat turun 0,17 poin atau 0,16% ke level 103,27 berdasarkan data marketwatch.
Pembayaran Imbal Hasil Asing Turun
Erwin mengatakan, neraca transaksi berjalan membaik, ditopang perbaikan kinerja neraca perdagangan barang dan jasa yang tetap solid. Pada triwulan III-2023, transaksi berjalan mencatatkan defisit 0,9 miliar dolar AS atau setara 0,2% dari produk domestik bruto (PDB), jauh menurun dibandingkan dengan defisit 2,2 miliar dolar AS (0,6% dari PDB) pada triwulan sebelumnya.
"Surplus neraca perdagangan nonmigas meningkat didukung oleh perbaikan permintaan beberapa komoditas ekspor, terutama besi dan baja, di tengah tren harga komoditas yang masih turun. Sementara itu, defisit neraca perdagangan migas meningkat sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia," papar Erwin.
Perbaikan neraca transaksi berjalan, lanjut dia, turut ditopang oleh penurunan defisit jasa, yang didukung oleh peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara seiring dengan pemulihan sektor pariwisata yang terus berlangsung. Selain itu, defisit neraca pendapatan primer juga menurun, sejalan dengan pembayaran imbal hasil kepada investor asing yang lebih rendah.

