Perry Warjiyo Sebut Ekonomi Dunia Sedang Mengalami Fragmentasi dan Perubahan Siklus, Apa Maksudnya?
JAKARTA, investortrust.id – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan, perekonomain dunia sedang mengalami fragmentasi dan perubahan siklus. Dalam siklus baru itu, India akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi global.
“Selalu ada siklus. Hidup itu kan naik turun, hidup dan sejarah itu berulang. Demikian juga di bidang ekonomi,” kata Perry Warjiyo dalam focus group discussion dengan para pemimpin redaksi media massa bertajuk “Sinergi Memperkuat Ketahanan dan Kebangkitan Ekonomi Nasonal” di Bandung, Sabtu (03/02/2024).
Menurut Gubernur BI, ekonomi dunia telah beberapa kali mengalami perubahan siklus. Semula, mesin ekonomi dunia bertumpu kepada Eropa, kemudian pindah ke Amerika Serikat (AS), lalu beralih ke China.
Baca Juga
Perry Warjiyo: Lima Karakteristik Ini Ungkap Ketidakpastian Ekonomi Global 2024
“Nah, sekarang dari China sedang pindah ke India. Itu siklus, sejak nenek moyang kita pun begitu, itu muter aja,” ujar dia.
Berdasarkan catatan investortrust.id, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporannya akhir tahun lalu memperkirakan India telah menjadi negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, melampaui China. Tetapi peningkatan populasi India tidak diikuti kemampuan tenaga kerjanya.
Oxford memprediksi jumlah penduduk India per April 2023 mencapai 1,42 miliar jiwa, menyamai China. Populasi India kemudian melampaui jumlah penduduk Negeri Tirai Bambu. Populasi India diperkirakan terus bertambah selama beberapa dekade. Di pihak lain, populasi China terus menurun di bawah 1 miliar sebelum akhir abad ini.
Kendatisebagian besar penduduk India berada dalam usia kerja, mereka yang berusia antara 15 dan 64 tahun hanya menyumbang 51% dari angkatan kerja di negara berjuluk Anak Benua itu, dibandingkan 76% di China. Angkatan kerja India digadang-gadang bakaltetap lebih rendah dibandingkan China hingga akhir 2040.
Baca Juga
Gubernur BI Ungkap Perbedaan Indonesia dengan Negara Lain dalam Pengelolaan Fiskal dan Moneter
Dari Cepat Jadi Lambat
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan, sejalan dengan terjadinya perubahan siklus, pertumbuhan ekonomi dunia juga mengalami fragmentasi. Akibat perubahan lanskap tersebut, negara yang semula mengalami pertumbuhan ekonomi sangat pesat, kini melambat.
Perry mencontohkan, ekonomi Eropa dalam beberapa tahun belakangan tak lagi tumbuh tinggi seperti sebelumnya, bahkan sekarang dalam tren resesi. Begitu pula ekonomi AS yang tahun lalu tumbuh 3%, tahun ini diperkirakan hanya 1,3% dan tahun depan 1,8%.
“Lalu ekonomi China beberapa tahun lalu tumbuh 10%, lalu turun ke 7%, dan sekarang paling tinggi hanya 5%. Tahun depan pun ekonomi China nggak mungkin tumbuh lebih dari 5%. Juga kenapa ekonomi India sekarang bisa tumbuh 6%,” papar dia.
Fragmentasi dan perubahan siklus ekonomi dunia, kata Perry Warjiyo, juga menyebabkan kiblat rantai pasok global (global supply chain) bergeser dari China ke negara lain.
Baca Juga
Direvisi Naik, IMF Perkirakan Ekonomi Global 2024 Tumbuh 3,1%
“Sekarang one global supply chain pecah. Dulu pusatnya di Cina, sekarang dicari lagi, negara mana yang akan menjadi sumber global supply chain, apakah India? Ini masih dalam proses,” tandas dia.
Jika merujuk siklus yang muncul selama ini, menurut Gubernur BI, bisa jadi Eropa akan kembali menjadi mesin ekonomi atau pusat rantai pasok dunia setelah India atau negara lain menggantikan China.

