Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2024 akan Meningkat hingga 5,5%
JAKARTA, investortrust.id - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Maret 2024 menyimpulkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2024 akan meningkat hingga 5,5%. Hal ini juga didukung momentum pemulihan ekonomi global berlanjut, di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang masih tinggi.
“Pertumbuhan ekonomi global pada 2024 diprakirakan mencapai 3,0%, dengan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tetap kuat ditopang oleh permintaan domestik. India juga tumbuh lebih baik dari prakiraan, didukung oleh investasi pemerintah dan swasta,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (20/3/2024).
Baca Juga
Sementara itu, prospek ekonomi Tiongkok tetap belum kuat, meskipun sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya. Hal ini didorong peningkatan stimulus fiskal
"Harga komoditas tercatat meningkat didorong oleh naiknya biaya angkut karena ketegangan geopolitik dan ketatnya pasokan akibat faktor cuaca. Berbagai perkembangan tersebut mengakibatkan laju penurunan inflasi global tertahan, dengan inflasi di negara maju masih di atas targetnya," imbuhnya.
FFR Turun Semester II
Suku bunga Fed Funds Rate (FFR) diprakirakan baru menurun pada semester II 2024. “Ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi. Ini tecermin pada yield US Treasury yang meningkat, sejalan dengan premi risiko jangka panjang dan inflasi yang masih di atas prakiraan pasar,” ujar Perry.
Perkembangan ini mendorong berlanjutnya penguatan dolar AS secara global, lebih terbatasnya aliran masuk modal asing, dan meningkatnya tekanan pelemahan nilai tukar di negara emerging market. Kondisi tersebut memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif rambatan global tersebut, termasuk di Indonesia.
Permintaan Domestik Baik
Perry mengatakan lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan domestik yang baik di konsumsi rumah tangga dan investasi.
Baca Juga
Investasi bangunan lebih tinggi dari prakiraan, ditopang oleh berlanjutnya Proyek Strategis Nasional (PSN) di sejumlah daerah, dan berkembangnya properti swasta sebagai dampak positif dari insentif pemerintah. Konsumsi rumah tangga dan investasi nonbangunan tetap terjaga, meskipun perlu terus didorong untuk mendukung berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional.
“Tetap baiknya permintaan domestik tecermin pada sejumlah indikator. Ini seperti Indeks Keyakinan Konsumen, Indeks Penjualan Riil, dan PMI Manufaktur yang berada di zona optimistis,” bebernya.
Sementara itu, ekspor barang diprakirakan belum kuat, seiring penurunan permintaan dari negara mitra dagang utama, khususnya untuk komoditas CPO, besi baja, dan batu bara. Sedangkan ekspor jasa khususnya pariwisata tumbuh kuat.
“Dengan berbagai perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2024 diprakirakan berada dalam kisaran 4,7-5,5%. Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi stimulus fiskal pemerintah dengan stimulus makroprudensial Bank Indonesia, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya dari sisi permintaan domestik,” tegasnya.
