Rupiah Masih Melemah Rabu, BI akan Koordinasi Juga dengan Pertamina
Reporter | Farhan Nugraha
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam pembukaan perdagangan di pasar spot Rabu (17/4/2024) pagi. Dilansir Yahoo Finance, rupiah dibuka melemah 29 poin ke level Rp 16.199 per USD, setelah sebelumnya berada pada posisi Rp 16.170 per USD dalam penutupan perdagangan Selasa (16/4/2024).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter (DPM) Bank Indonesia Edi Susianto dalam keterangan tertulis kepada Investortrust.id sebelumnya menjelaskan, untuk mengantisipasi dampak yang lebih buruk, BI menjamin akan terus berupaya menjaga kestabilan rupiah melalui keseimbangan supply-demand valas di pasar, melalui triple intervention khususnya di spot dan Domestic Non-Delivery Forward (DNDF).
Edi menyebutkan, BI akan meningkatkan daya tarik aset rupiah. Langkah ini bertujuan untuk mendorong capital inflow, seperti melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang berdaya tarik dan hedging cost.
"Dalam waktu dekat, BI akan melakikan koordinasi dan membuka komunikasi dengan stakeholder terkait. Ini seperti dengan pemerintah, Pertamina, dan lainnya," kata Edi saat dihubungi Investortrust.id, Selasa (17/4/2024).
"Dalam waktu dekat, BI akan melakikan koordinasi dan membuka komunikasi dengan stakeholder terkait. Ini seperti dengan pemerintah, Pertamina, dan lainnya," kata Edi saat dihubungi Investortrust.id, Selasa (17/4/2024).
Pelemahan Pasca Libur Panjang Lebaran
Sebelumnya, rupiah dipaksa keok dalam perdagangan valas, Selasa (16/4/2024), usai libur panjang cuti bersama Hari Raya Idulfitri 1445 Hijriyah. Berdasarkan kurs Jisdor yang memantau transaksi spot di pasar valas antarbank Indonesia, mata uang Garuda ditutup anjlok 303 poin ke level Rp 16.176 per USD.
Analis PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Reny Eka Putri menyebut, setidaknya dalam satu dekade terakhir, mata uang rupiah memiliki tren melemah pascalibur panjang cuti bersama Hari Raya Idulfitri. "Dalam sepuluh tahun terakhir, dalam 7 kali hari perdagangan setelah libur Idulfitri, rupiah rata-rata melemah sebesar 0,44% dibandingkan nilai tukar rupiah sebelum hari raya," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/4/2024).
Ia menjelaskan juga, melemahnya nilai tukar rupiah erat kaitannya dengan perkembangan perekonomian dan sentimen di pasar keuangan, baik dari sisi global maupun domestik. Perkembangan perekonomian Amerika Serikat dan kebijakan The Fed, lanjut dia, menjadi faktor eksternal utama yang memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.
Saat potensi perbaikan perekonomian Amerika Serikat atau kebijakan The Fed bernada hawkish, menurut Reny, peluang menguatnya USD semakin tinggi. Hal tersebut akan ikut memberikan tekanan terhadap mata uang Garuda.
Sementara itu sentimen domestik tidak luput memengaruhi anjloknya rupiah pascalibur Lebaran. Ia menuturkan, inflasi tinggi yang terjadi berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah, karena dapat menurunkan daya beli masyarakat serta meningkatkan harga barang dan jasa.
"Faktor dalam negeri seperti defisit neraca perdagangan, kebijakan moneter, inflasi, kinerja perekonomian dalam negeri, faktor politik, dan stabilitas sosial dapat melemahkan nilai tukar rupiah," ucapnya.
Dalam merespons tren depresiasi rupiah yang tengah terjadi, analis BMRI tersebut mendorong pemerintah dan Bank Indonesia untuk terus memantau serta mengelola sentimen di atas, guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

