Ekonom: Pemerintah Perlu Hati-Hati Hadapi Tekanan Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengingatkan posisi pemerintah dalam menghadapi tekanan moneter akibat dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat. Wijayanto mengatakan sikap ekstra hati-hati perlu dilakukan karena posisi fiskal pemerintah yang relatif rentan.
“Secara fiskal relatif rentan akibat ketergantungan utang sementara rasio pajak terus menurun,” kata Wijayanto melalui pesan singkat kepada investortrust.id, Selasa (2/4/2024).
Baca Juga
Wijayanto mengatakan saat ini penerimaan pemerintah sangat tergantung oleh komoditas yang harganya sedang mengalami fluktuasi dan tren menurun di pasar global.
“Jika tak berhati-hati, trust dunia internasional bisa merosot dan rupiah bisa terpuruk,” kata dia.
Wijayanto menilai, berbagai ramuan peredam gejolak nilai tukar yang dimiliki Bank Indonesia (BI) hanya bersifat jangka pendek. Menurut dia, saat ini pemerintah perlu memperbaiki kondisi fiskal.
“Hindari kebijakan populis yang tidak produktif dan boros anggaran,” kata dia.
Sementara itu, pengamat pasar uang, Ariston Tjendra menyebut ada faktor eksternal dari AS dengan imbal hasil (yield) obligasi terutama tenor 10 tahun yang bertahan tinggi di kisaran 4,3% yang menyebabkan dolar menguat terhadap sejumlah mata uang negara berkembang. Namun, Ariston tak memungkiri ada juga faktor kebijakan fiskal dalam negeri yang turut mempengaruhi.
“Iya fiskal itu termasuk kenaikan PPN 12% dan mungkin anggaran untuk program yang dijanjikan presiden baru,” kata Ariston.
Baca Juga
Penguatan Indeks Dolar Tekan Rupiah Mendekati Rp 16 Ribu/USD
Sementara itu, ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Reny Eka Putri menyebut sentimen dalam negeri yang membuat rupiah melemah yaitu kekhawatiran investor terhadap defisit neraca transaksi berjalan yang menjadi 1,5% dari PDB pada 2024. Selain itu, aksi ambil untung investor jelang Idulfitri 2024 juga turut mempengaruhi kondisi ini.
“Aksi ambil untung jelang Hari Raya Idulfitri dan keluarnya modal asing dari pasar dalam negeri juga menjadi penyebab pelemahan rupiah,” kata Reny.

