Begini Efek yang Dirasakan RI saat Bunga The Fed Diturunkan
JAKARTA, Investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan suku bunga The Fed atau Fed Funds Rate (FFR) baru akan diturunkan pada semester II/2024. Proyeksinya tersebut didasari pada inflasi di Amerika Serikat yang masih relativ tinggi.
“Dengan data terbaru, mengkonfirmasi perkiraan kami FFR baru akan turun semester II, jumlahnya 75 basis poin,” katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur, Rabu (21/2/2024).
Proyeksi yang sama juga disampaikan oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), yang memperkirakan semester kedua tahun 2024 menjadi periode yang lebih aman bagi The Fed untuk mulai memangkas suku bunga setelah ada kejelasan kondisi inflasi AS.
“Kami cenderung lebih konservatif dalam mengasumsikan penurunan FFR, semester kedua 2024 dipandang sebagai periode yang lebih aman untuk berasumsi The Fed bisa mulai memangkas suku bunga setelah ada kejelasan kondisi inflasi AS,” kata Samuel Kesuma, Senior Portfolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia dalam pernyataan yang diterima Kamis (22/2/2024).
Baca Juga
MAMI: Euforia Suku Bunga The Fed Bisa Jadi Sumber Volatilitas
Menurut Samuel, secara historis periode pemangkasan suku bunga dan turunnya imbal hasil obligasi menjadi iklim yang kondusif bagi pasar finansial. Selama tiga siklus penurunan suku bunga The Fed sebelumnya, indikator makro dan pasar finansial Indonesia menunjukkan hasil yang positif, yakni melandainya nilai tukar USDolar, arus masuk portofolio asing, penurunan imbal hasil obligasi dan pemangkasan suku bunga bank sentral.
“Siklus pemangkasan The Fed pada tahun ini diharapkan memberikan hasil serupa bagi Indonesia,” ujar Samuel.
Samuel juga menyebutkan, pelonggaran moneter akan mendorong normalisasi likuiditas domestik, setelah sebelumnya Bank Indonesia melakukan pengetatan likuiditasdemi menjaga stabilitas eksternal.
Peluang pergeseran ini, kata Samuel, diperkirakan akan terjadi bersamaan dengan pelonggaran suku bunga The Fed. “Likuiditas yang membaik dapat memberikan dukungan yang lebih baik terhadap aktivitas perekonomian dan sentimen di pasar finansial. Diperkirakan Bank Indonesia dapat melonggarkan kebijakan moneternya dengan menggunakan alat kebijakan non-suku bunga, seperti menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebelum mulai menurunkan suku bunga BI,” imbuh Samuel.
Secara historis, lanjutnya, penurunan GWM terjadi sebelum siklus penurunan suku bunga BI seperti pada tahun 2015 dan 2019.

