Rupiah Melemah ke Rp18.031 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan BI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah 0,08% ke posisi Rp 18.031 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (20/10/2026) pagi. Selain rupuah, dua mata uang di kawasan ini turut melemah, yaitu yen Jepang melemah 0,01% dan baht Thailand terkoreksi 0,06%.
Sementara itu, ringgit Malaysia dan dolar Singapura menguat 0,02%. Adapun Rupee India menguat 0,03%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa indeks dolar AS (DXY) sempat menguat 0,14% ke level 101,98 didukung oleh kenaikan imbal hasil US treasury serta pelemahan kembali euro.
Baca Juga
Perhatian pasar pada pekan ini akan tertuju pada rilis laporan keuangan perusahaan-perusahaan AS dan indikator inflasi yang akan datang. Sementara itu, harga energi yang tinggi masih menjadi salah satu risiko utama yang dapat mendorong inflasi lebih tinggi dari perkiraan.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed masih mengarah pada penahanan suku bunga dalam pertemuan FOMC pada 27–28 Oktober, dengan probabilitas sekitar 83% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Namun, pasar masih memperkirakan probabilitas yang tinggi terhadap kenaikan suku bunga lanjutan pada Desember, mengingat inflasi September 2026 masih tinggi. Kondisi ini mempertahankan kecenderungan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Harga minyak mentah Brent turun tipis 0,28% menjadi US$ 109,6 per barel tetapi masih berada di dekat level tertinggi sejak Mei di tengah risiko gangguan pasokan yang berkelanjutan di Timur Tengah.
Serangan Houthi dan risiko terhadap pelayaran di sekitar Selat Hormuz terus mempertahankan premi risiko geopolitik pada harga minyak. Sementara itu, tambahan pasokan energi dari Rusia hanya memberikan sedikit kelegaan terhadap tekanan pasokan global.
Dari dalam negeri, nilai tukar mata uang rupiah melemah 0,17% ke level Rp 18.043 per dolar AS, pada 19 Oktober 2026. Rupiah telah melemah 0,97% secara bulanan (mtd) dan 8,11% secara tahunan (ytd).
Baca Juga
Rupiah Jebol ke Rp 18.000-an per Dolar AS, Efek dari Keputusan MSCI
Faktor utama yang menekan rupiah, yakni ketidakpastian MSCI, berlanjutnya arus dana keluar investor asing dari pasar saham, harga minyak Brent yang mendekati US$ 110 per barel, serta kenaikan imbal hasil US treasury.
Pasar juga akan mencermati Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20–21 Oktober, dengan konsensus memperkirakan BI Rate dipertahankan di level 5,75%. Keputusan kebijakan tersebut akan diumumkan pekan ini, dengan stabilitas nilai tukar diperkirakan tetap menjadi pertimbangan utama di tengah meningkatnya volatilitas pasar domestik.
