Peraih Nobel James Robinson Hadir di Forum Prasasti, Bahas Masa Depan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
“Penulis Why Nations Fail akan mengulas inovasi dan produktivitas. Prasasti juga meluncurkan riset perdana mengenai daya saing sektor swasta”.
JAKARTA, Investortrust.id — Penerima Penghargaan Nobel Ilmu Ekonomi 2024, Prof. James A. Robinson, dijadwalkan menjadi pembicara utama dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026, Selasa (13/10/2026), di The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place, Jakarta Selatan. Ekonom sekaligus ilmuwan politik dari University of Chicago tersebut akan membahas inovasi, produktivitas, dan masa depan pertumbuhan ekonomi.
Mengusung tema “Shaping Indonesia’s Next Growth Chapter”, forum yang digelar Prasasti Center for Policy Studies ini akan membahas bagaimana pemerintah dan sektor swasta dapat membangun kemitraan produktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
Berdasarkan undangan dan susunan acara yang diterima Investortrust, Robinson akan menyampaikan paparan utama bertajuk “Innovation, Productivity, and the Future of Growth” pada pukul 09.35–10.05 WIB. Ia kemudian dijadwalkan mengikuti diskusi panel bersama perwakilan pemerintah mengenai kemitraan negara dan pasar dalam menghadapi tahap pertumbuhan Indonesia berikutnya. Nama perwakilan pemerintah belum dicantumkan dalam agenda tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Prasasti akan meluncurkan riset unggulan perdananya mengenai daya saing sektor swasta dan agenda pertumbuhan Indonesia. Research Director Prasasti Center for Policy Studies, Adhi Nugroho, dijadwalkan memaparkan riset bertajuk “Elevating Private-Sector Perspectives to Shape Indonesia’s Next Growth Chapter”.
Rangkaian kegiatan berlangsung pukul 08.30–13.00 WIB, diawali registrasi, pembukaan, serta sambutan anggota Board of Advisors Prasasti Center for Policy Studies, Burhanuddin Abdullah. Executive Director Prasasti, Nila Marita Indreswari, dijadwalkan menyampaikan sambutan penutup sebelum sesi foto, tanya jawab media, dan makan siang bersama.
Kehadiran Robinson memberi perspektif kelembagaan terhadap pembahasan pertumbuhan Indonesia. Selama bertahun-tahun, penelitiannya berpusat pada pertanyaan mendasar: mengapa sebagian negara mampu mencapai kemakmuran, sementara negara lain terus menghadapi kemiskinan meskipun memiliki sumber daya dan potensi ekonomi yang besar?
Pada 2024, Robinson menerima Penghargaan Ilmu Ekonomi untuk Mengenang Alfred Nobel bersama Daron Acemoglu dan Simon Johnson. Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia memberikan penghargaan itu atas penelitian mereka mengenai bagaimana institusi terbentuk dan memengaruhi kemakmuran. Penghargaan tersebut mengakui kontribusi penelitian mereka dalam menjelaskan akar perbedaan kesejahteraan antarnegara.
Panitia penghargaan menyoroti penelitian ketiganya mengenai pengaruh institusi yang dibangun pada masa kolonial terhadap perkembangan ekonomi jangka panjang. Aturan yang dibentuk untuk mengeksploitasi penduduk menghasilkan insentif dan kesempatan yang berbeda dibandingkan sistem yang memperluas partisipasi serta perlindungan hak. Penelitian mereka juga membantu menjelaskan mengapa institusi yang menguntungkan kelompok terbatas dapat bertahan meskipun menghambat kesejahteraan masyarakat luas.
Dalam kerangka tersebut, institusi mencakup aturan formal maupun praktik yang menentukan bagaimana kekuasaan dijalankan, kepemilikan dilindungi, dan kesempatan ekonomi dibagikan. Kualitas institusi memengaruhi kemauan masyarakat untuk berinvestasi, meningkatkan keterampilan, membangun usaha, serta menciptakan inovasi.
Gagasan itu dikenal luas melalui buku Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty, yang ditulis Robinson bersama Acemoglu dan pertama kali terbit pada 2012. Menurut profil resmi Harris School of Public Policy, University of Chicago, buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa.
Buku ini mengajak pembaca melihat kemakmuran melalui cara sebuah masyarakat mengatur kehidupan politik dan ekonominya. Acemoglu dan Robinson berpendapat bahwa geografi, iklim, dan kebudayaan tidak cukup untuk menjelaskan perbedaan kesejahteraan. Mereka menggunakan berbagai pengalaman sejarah, termasuk perbedaan perjalanan Korea Utara dan Korea Selatan, untuk menunjukkan pentingnya institusi dalam membentuk kesempatan serta insentif ekonomi.
Inti pembahasannya adalah perbedaan antara institusi inklusif dan institusi ekstraktif. Institusi inklusif memungkinkan masyarakat luas berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi, memperoleh kesempatan, dan menikmati hasil usahanya. Perlindungan hak kepemilikan, akses pendidikan, serta kesempatan berusaha menjadi bagian penting dari lingkungan yang mendorong investasi dan inovasi.
Sebaliknya, institusi ekstraktif memusatkan kesempatan dan manfaat ekonomi pada kelompok terbatas. Dalam sistem seperti ini, aturan dapat mengurangi insentif masyarakat untuk bekerja produktif karena hasil usaha dan investasi mereka tidak terlindungi dengan baik. Robinson menjelaskan bahwa persoalan tersebut berkaitan erat dengan distribusi kekuasaan politik serta kemampuan masyarakat meminta pertanggungjawaban penguasa.
Perspektif itu relevan dengan tema kemitraan pemerintah dan sektor swasta yang diangkat Prasasti. Kemitraan produktif membutuhkan negara yang mampu menyediakan pelayanan publik, menegakkan aturan, dan menciptakan kepastian. Pada saat yang sama, pelaku usaha membutuhkan ruang untuk bersaing, mengembangkan teknologi, serta mengambil keputusan investasi berdasarkan aturan yang dapat dipercaya.
Dengan demikian, pembahasan inovasi dan produktivitas dapat diperluas hingga menyentuh lingkungan kelembagaan yang memungkinkan keduanya tumbuh. Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana kebijakan membuka kesempatan bagi lebih banyak pelaku usaha, menjaga persaingan, dan memastikan manfaat pertumbuhan menjangkau masyarakat luas.
Robinson memiliki latar belakang akademik lintas disiplin. Ia meraih gelar sarjana ekonomi dari London School of Economics and Political Science pada 1982, gelar master dari University of Warwick pada 1986, serta doktor dari Yale University pada 1993. Bidang utamanya meliputi ekonomi politik, politik komparatif, serta pembangunan ekonomi dan politik.
Sebelum bergabung dengan University of Chicago pada 2015, Robinson mengajar di University of Melbourne, University of Southern California, University of California, Berkeley, dan Harvard University. Di Harvard, ia antara lain menjabat sebagai Wilbur A. Cowett Professor of Government. Kini ia menyandang jabatan University Professor di University of Chicago, dengan afiliasi pada Harris School of Public Policy, Departemen Ilmu Politik, dan John U. Nef Committee on Social Thought.
Penelitiannya memadukan analisis kuantitatif dengan sejarah, studi kasus, dan kerja lapangan. Ia memiliki perhatian khusus terhadap Amerika Latin dan Afrika sub-Sahara, serta telah melakukan penelitian di sejumlah negara, termasuk Kolombia, Bolivia, Haiti, Republik Demokratik Kongo, Nigeria, Sierra Leone, Afrika Selatan, dan Zimbabwe.
Selain Why Nations Fail, Robinson bersama Acemoglu menulis Economic Origins of Dictatorship and Democracy, yang membahas kemunculan dan keberlangsungan demokrasi serta kediktatoran, dan The Narrow Corridor: States, Society, and the Fate of Liberty, mengenai hubungan negara dan masyarakat dalam membentuk kebebasan. Karya-karya tersebut memperlihatkan benang merah pemikirannya: pembangunan ekonomi berkaitan erat dengan bagaimana kekuasaan dibentuk, digunakan, dan diawasi.
Melalui forum Prasasti, gagasan tersebut akan bertemu dengan agenda praktis pertumbuhan Indonesia: memperkuat daya saing sektor swasta, meningkatkan produktivitas, dan membangun kemitraan pemerintah–dunia usaha yang mampu menghasilkan kemakmuran berkelanjutan.***
