Rupiah Alami Penguatan, Indeks Dolar AS Melemah
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (8/10/2026) pagi. Rupiah menguat 0,08% menjadi Rp 17.872 per dolar AS.
Baca Juga
Rupiah Perkasa Saat Mata Uang di Kawasan Asia Loyo Hadapi Dolar AS
Papan data Bloomberg menunjukkan terjadinya penguatan terhadap nilai tukar mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang menguat 0,17%, yuan China menguat 0,07%, ringgit Malaysia menguat 0,03%, dolar Singapura menguat 0,06%, dan baht Tailan menguat 0,16%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan indeks DXY sempat menguat 0,40% menjadi 102,24 dan telah menguat 3,99% year to date (ytd). Hal ini didukung permintaan aset safe haven serta kembali melemahnya euro di tengah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Eropa.
Pasar akan mencermati data klaim awal tunjangan pengangguran AS malam ini, yang diperkirakan mencapai 200.000 dibandingkan 197.000 sebelumnya, serta continuing claims yang diperkirakan sebesar 1,71 juta.
Selain itu, imbal hasil US Treasury 10 tahun naik tipis 0,4 basis poin (bps) menjadi 5,28%. Sementara imbal hasil US Treasury 2 tahun turun 2,0 bps menjadi 4,77%.
Imbal hasil tenor panjang tetap tinggi di tengah kekhawatiran fiskal dan inflasi, meskipun permintaan yang kuat pada lelang Treasury AS tenor 10 tahun senilai US$ 39 miliar membantu membatasi tekanan jual.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kembali menurun, dengan pasar kini hanya memperhitungkan probabilitas sekitar 17% untuk kenaikan 25 bps pada pertemuan FOMC 27–28 Oktober.
Baca Juga
Asing Masih ‘Net Sell’, ‘Yield’ Global dan Rupiah Jadi Beban IHSG
Risalah FOMC September menunjukkan bahwa mayoritas pembuat kebijakan masih menilai kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun diperlukan. Hal ini mengindikasikan kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober, sementara peluang kenaikan pada Desember tetap terbuka lebar.
Harga minyak mentah Brent turun 0,38% menjadi US$ 100,2 per barel, setelah IEA menyepakati percepatan pelepasan cadangan minyak darurat, yang membantu mengimbangi kembali meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah. Namun, serangan Houthi yang masih berlanjut serta risiko di sekitar jalur pelayaran Bab el-Mandeb dan Teluk membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi.
