Belanja Subsidi Diproyeksikan Rp 387,88 Triliun, 70,3% untuk Subsidi Energi
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah menargetkan belanja subsidi pada RAPBN 2027 mencapai Rp 387,88 triliun. Angka tersebut naik 15,1% dari belanja subsidi di outlook APBN 2026.
Belanja subsidi terdiri dari subsidi energi dan non-energi. Untuk belanja non-energi, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 114,9 triliun.
“Subsidi energi tahun depan mencapai Rp 272,95 triliun,” kata Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dikutip Senin (17/8/2026).
Purbaya mengatakan belanja subsidi yang dialokasikan pemerintah bertujuan untuk mengakselerasi penurunan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem berbasis Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dan penguatan program graduasi kemiskinan.
“Dan menajamkan akurasi data penerima subsidi dan bansos agar lebih tepat sasaran,” kata dia.
Baca Juga
Subsidi LPG 3 Kg Makin Tepat Sasaran, Pertamina Gandeng Dukcapil Validasi NIK
Berdasarkan informasi yang didapat investortrust.id, subsidi energi terdiri atas subsidi jenis BBM tertentu dan subsidi LPG tabung 3 kilogram, serta subsidi listrik. Data menunjukkan subsidi untuk jenis BBM tertentu mencapai Rp 28,7 triliun, subsidi untuk LPG tabung 3 kilogram sebesar Rp 114,1 triliun, dan subsidi listrik mencapai Rp 130,1 triliun.
Sejak 2022 hingga 2025, realisasi subsidi energi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan meningkat.
Pada 2022, realisasi subsidi energi mencapai Rp 171,85 triliun. Angka tersebut tumbuh menjadi Rp 185,17 pada 2025. Pada outlook 2026, realisasi subsidi energi diperkirakan mencapai Rp 227,26 triliun.
Untuk realisasi subsidi jenis BBM tertentu dan LPG tabung 3 kilogram, pemerintah mencatat realisasi subsidi mencapai Rp 115,61 triliun pada 2022 menjadi Rp 104,13 triliun pada 2025.
Pada outlook 2026, realisasi subsidi energi diperkirakan mencapai Rp 116,85 triliun. Perkembangan subsidi jenis BBM tertentu dan LPT tabung 3 kg dipengaruhi oleh asumsi dasar ekonomi makro khususnya harga minyak mentah Indonesia dan nilai tukar rupiah, volume penyaluran, harga acuan produk, dan pembayaran kekurangan subsidi tahun sebelumnya.
Perkembangan jenis BBM tertentu seperti minyak solar juga mengubah realisasi. Pada 2022, subsidi untuk solar mencapai Rp 500 per liter. Sementara pada 2023-2026, subsidi untuk solar mencapai Rp 1.000 per liter.Dari sisi penyaluran, kuota solar subsidi diproyeksikan mencapai 18,6 juta kiloliter pada 2026.
Sementara itu untuk volume penyaluran jenis BBM tertentu minyak tanah 2022-2025 cenderung meningkat dari 488,5 ribu kiloliter pada 2022 menjadi 507,8 ribu kilolter pada 2025. Pada 2026, diproyeksikan kuota penyaluran minyak tanah mencapai 526 ribu kiloliter.
Selanjutnya, realisasi volume penyaluran LPG tabung 3 kg menunjukkan tren peningkatan dari 7,8 juta metrik ton pada 2022 menjadi 8,5 juta metrik ton pada 2025. Adapun kuota penyaluran LPG Tabung 3 kg pada outlook 2026 sebesar 8,0 juta metrik ton.
Baca Juga
Purbaya: Pemerintah Siapkan Subsidi Bunga PNM Mekaar Jadi 8%
Realisasi subsidi listrik selama periode 2022–2025 menunjukkan tren peningkatan rata-rata sebesar 12,9% dari semula Rp 56,24 triliun pada 2022 menjadi Rp 81,03 triliun pada 2025.
Pada outlook 2026, subsidi listrik diperkirakan mencapai Rp 110,41 triliun. Perkembangan subsidi listrik terutama dipengaruhi oleh harga minyak mentah Indonesia, nilai tukar rupiah, volume listrik bersubsidi, dan pembayaran kekurangan subsidi tahun sebelumnya.

