Pemerintah Bidik Investasi Rp 2.322 Triliun pada 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah membidik realisasi investasi senilai total Rp 2.322 triliun pada 2027. Target tersebut meningkat Rp 280,7 triliun atau sekitar 13,8% dibandingkan target investasi 2026 yang sebesar Rp 2.041,3 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani mengatakan, target investasi 2027 telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP).
“Sesuai RKP 2027, realisasi investasi yang ditargetkan kepada kami oleh Pak Rachmat Pambudy sebagai Ketua Bappenas adalah Rp2.322 triliun. Naik dari target tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun,” kata Rosan dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga
Investasi Tembus Rp1.010 Triliun, Prabowo Bidik Ekonomi Tumbuh 6%
Peningkatan target investasi tersebut, menurut Rosan, sejalan dengan optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam penyampaian RAPBN 2027, Presiden Prabowo Subianto menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6% pada 2027.
Target tersebut berada dalam rentang sasaran pertumbuhan ekonomi 5,8% hingga 6,5% yang telah dibahas pemerintah bersama DPR. Sebelumnya, dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026, Presiden Prabowo juga menyampaikan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6% pada akhir 2026.
Rosan Roeslani menjelaskan, investasi berkontribusi semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pada triwulan II-2026, komponen investasi tumbuh 6,87% secara tahunan (yoy) dan menyumbang sekitar 39% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29%.
“Investasi menyumbang kurang lebih 39% dari total pertumbuhan triwulan kedua, di atas kisaran normal yang biasanya sekitar 28–29%,” ujar Rosan.
Rosan mengungkapkan, realisasi investasi sepanjang semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% (yoy) dan setara dengan 49,5% dari target investasi 2026.
Capaian itu, kata Rosan, juga berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja. Sepanjang enam bulan pertama 2026, investasi mampu menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia atau meningkat 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Angka ini tentunya belum termasuk kesempatan kerja tidak langsung dan aktivitas pendukung investasi lainnya,” tutur Rosan.
Ia menegaskan, investasi bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja berkualitas dan peningkatan kesejahteraan.
“Setiap rupiah investasi harus menciptakan lapangan kerja yang baik, yang berkualitas, sekaligus juga memperbaiki kualitas hidup masyarakat kita,” tutur Rosan.
Dia menambahkan, pada periode yang sama, investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp 300,1 triliun atau sekitar 29,7% dari total realisasi investasi semester I-2026. Nilai tersebut tumbuh 6,9% (yoy).
Baca Juga
Ketua Kadin: Diplomasi Ekonomi Harus Dorong Investasi dan Industrialisasi
Investasi hilirisasi masih didominasi oleh sektor mineral dengan nilai Rp 206,5 triliun. Selain itu, investasi hilirisasi perkebunan dan kehutanan tercatat Rp 54,4 triliun, minyak dan gas bumi Rp 35,4 triliun, serta sektor perikanan dan kelautan sebesar Rp 3,8 triliun.
Rosan mengatakan, pemerintah akan terus memperluas pengembangan hilirisasi, khususnya di sektor berbasis sumber daya alam yang memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja.
Menurut dia, sektor perkebunan dan kehutanan memang memiliki nilai investasi lebih rendah dibandingkan sektor mineral, tetapi mampu memberikan dampak penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.
“Kami mendorong juga hilirisasi di perkebunan, kehutanan, minyak dan gas bumi karena dari segi penyerapan tenaga kerja, investasi di bidang tersebut lebih besar meskipun secara nominal masih di bawah investasi sektor mineral,” papar dia.

