Akomodasi, Transportasi, dan Digital Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,8-6,5% pada 2027 sebagai bagian dari jalur percepatan menuju target pertumbuhan 8% pada 2029. Untuk mencapai sasaran tersebut, sektor akomodasi dan makan minum, transportasi dan pergudangan, serta informasi dan komunikasi diproyeksikan menjadi motor utama penggerak ekonomi nasional.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy mengungkapkan, tahun 2027 akan menjadi fase akselerasi pembangunan. Tahun depan, seluruh instrumen ekonomi, mulai APBN, BUMN, sektor swasta, hingga pemda diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata terhadap pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat.
“Akselerasi adalah tahun eksekusi bahwa APBN, BUMN, swasta, dan daerah bergerak untuk hasil nyata dan ini merupakan dalam rangka pencapaian target 2029,” ujar Rachmat dalam Konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga
Dari sisi produksi, menurut Rachmat Pambudy, Bappenas memetakan sejumlah sektor yang akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum diproyeksikan tumbuh paling tinggi, yakni 9,3-9,7%, seiring meningkatnya aktivitas pariwisata, perjalanan, dan konsumsi masyarakat.
Di posisi berikutnya, kata dia, sektor transportasi dan pergudangan ditargetkan tumbuh 8,7-9,3%. Kinerja sektor ini diperkirakan terdorong oleh meningkatnya mobilitas penduduk, ekspansi perdagangan, serta penguatan jaringan logistik nasional.
Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi diproyeksikan tumbuh 7,9-8,8%. “Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin besarnya peran ekonomi digital, transformasi teknologi, serta kebutuhan konektivitas yang terus meningkat di berbagai sektor usaha,” tutur dia.
Rachmat menjelaskan, selain sektor-sektor dengan pertumbuhan tinggi tersebut, pemerintah mengandalkan kontribusi sektor-sektor utama yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian. Industri pengolahan ditargetkan tumbuh 5,9-6,6%, perdagangan 6,4-6,7%, konstruksi 5,3-6,4%, dan pertanian 5,3-5,8%.
“Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi. Bappenas menargetkan konsumsi masyarakat tumbuh 5,3-5,6% pada 2027, didukung stabilitas harga dan peningkatan aktivitas ekonomi,” papar dia.
Dia menambahkan, investasi juga diproyeksikan meningkat dengan pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 6,5-7,5%. Adapun konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh 4,3-7,7% sebagai bagian dari upaya menjaga momentum pembangunan.
Di sektor eksternal, ekspor barang dan jasa ditargetkan tumbuh 7,1-8,8%, sedangkan impor diproyeksikan meningkat 7,8-9,9%. “Kinerja perdagangan internasional tersebut diharapkan menjadi salah satu sumber tambahan pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global,” ucap Menteri PPN.
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, pemerintah juga menyiapkan penajaman program pembangunan melalui delapan klaster prioritas yang akan diterjemahkan ke dalam sekitar 80 program prioritas nasional.
“Yang paling penting adalah ada penajaman di dalam rencana kerja pemerintah, khususnya dalam membuat program kerja bulanan nasional di dalam delapan klaster. Akan ada 80 program prioritas di situ,” tegas Rachmat.
Rachmat Pambudy menyatakan, Bappenas pun menetapkan berbagai target kesejahteraan yang berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Pada 2027, pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita ditargetkan mencapai US$ 5.800-5.840 atau sekitar Rp96,4 juta-Rp97 juta per kapita.
Kecuali itu, pemerintah membidik penghapusan kemiskinan ekstrem hingga mendekati 0%, menurunkan tingkat kemiskinan menjadi 6-6,5%, serta menekan tingkat pengangguran terbuka ke kisaran 4,3-4,87%.
Baca Juga
Di sisi ketimpangan, rasio gini ditargetkan turun menjadi 0,362-0,367. Pemerintah juga membidik penciptaan lapangan kerja baru sebanyak 2,57-3,49 juta orang dengan proporsi pekerjaan formal mencapai 40,81%.
Rachmat Pambudy mengemukakan, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 turut menempatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan keberlanjutan lingkungan sebagai agenda penting. Pemerintah menargetkan indeks modal manusia sebesar 0,575, penurunan intensitas emisi gas rumah kaca hingga 39,57%, serta peningkatan indeks kualitas lingkungan hidup menjadi 76,84.
Menurut Rachmat, seluruh target dan arah pembangunan tersebut telah disusun dalam RKP 2027 dan menjadi bagian dari strategi jangka menengah pemerintah untuk mencapai target pembangunan nasional.
“Kami pastikan semua rencana kerja yang dilakukan Bapak Presiden bersama pemerintah dan kementerian/lembaga sejalan dengan UUD 1945, Asta Cita, serta rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang nasional,” kata dia.

