Pertumbuhan Ekonomi 5,29% YoY, Pemerintah Perlu Jaga Daya Beli Masyarakat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan. Meski begitu terdapat pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah ke depan.
Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad menjelaskan bahwa untuk mempertahankan tren positif pada dua kuartal sisa pada 2026, pemerintah perlu fokus menjaga daya beli masyarakat.
Menurut Kamrussamad, pemerintah perlu mengendalikan inflasi bahan pangan, mempercepat transisi hilirisasi industri dari sekadar komoditas mentah menuju produk manufaktur bernilai tambah tinggi guna memperkuat ekspor, dan memperkuat efisiensi belanja negara dan meningkatkan iklim kemudahan berinvestasi.
“Ke depan, kolaborasi dan sinergi lintas otoritas dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang terdiri dari Kementerian Keuangan (fiskal), Bank Indonesia (moneter), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan yang diperkuat oleh peran penguatan investasi dari Danantara, perlu terus dipacu,” kata Kamrussamad, dalam keterangan resminya, Sabtu (8/8/2026).
Baca Juga
Kamrussamad menjelaskan kolaborasi ini menjadi kunci utama dalam memitigasi risiko volatilitas global, menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, serta memastikan efisiensi pasokan likuiditas dan pembiayaan bagi sektor riil.
Langkah strategis tersebut makin solid dengan optimalisasi implementasi UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang memperkokoh fondasi, inklusi, dan tata kelola industri keuangan nasional, serta akselerasi UU Pusat Finansial Internasional Indonesia (UU PFII) yang memposisikan Indonesia sebagai pusat gravitasi keuangan regional bernilai tambah tinggi.
“Integrasi kebijakan fiskal, moneter, regulasi sektor keuangan, dan kelembagaan investasi ini akan memastikan stabilitas sistem keuangan tetap tangguh sekaligus mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif demi mewujudkan kemakmuran masyarakat Indonesia secara menyeluruh,” ujar dia.
Kamrussamad menjelaskan bahwa laju pertumbuhan ekonomi yang solid ini mengandung sejumlah implikasi penting bagi perekonomian nasional. Pertama, kebijakan ekonomi pemerintah sudah berjalan pada jalur yang tepat, yang dibuktikan dengan keberhasilannya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tumbuh tinggi di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya eskalasi geopolitik yang mengerek harga minyak dunia.
Hal tersebut membuktikan bahwa sejumlah program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, Nelayan Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat, Sekolah Unggulan, serta sejumlah program lainnya, berhasil bertindak sebagai penggerak roda ekonomi.
Kedua, fundamental ekonomi Indonesia terbukti sangat kuat di tengah meningkatnya dinamika terhadap nilai tukar rupiah dan pasar modal di dalam negeri.
Menurut Kamrussamad, perekonomian Indonesia memiliki daya tahan (resiliensi) yang sangat solid dan tidak sekedar bergantung pada arus modal portofolio jangka pendek, melainkan ditopang oleh pondasi sektor riil yang kokoh, seperti konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, inflasi yang terkendali, serta realisasi investasi produktif yang terus berlanjut.

