Rupiah Menguat 0,29% ke Rp17.974 Jelang Data Pertumbuhan Ekonomi RI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat menguat 0,29% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (5/8/2026) pagi di posisi Rp 17.974. Penguatan rupiah terjadi jelang pengumuman data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Selain rupiah, terjadi penguatan nilai tukar sejumlah mata uang di Asia dipimpin penguatan dolar Taiwan sebesar 0,41%. Sementara itu, yuan China menguat 0,01%, yen Jepang menguat 0,06%, baht Tailan menguat 0,05%, dan dolar Singapura menguat 0,02% serta peso Filipina menguat 0,36%.
Baca Juga
Rupiah Menguat di Awal Pekan ke Posisi Rp 17.978 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat penguatan rupiah terjadi seiring imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun turun 6,29 bps menjadi 4,61%. Kondisi ini membuat indeks dolar AS (DXY) bergerak di kisaran 100.
Menurunnya US Treasury 10 tahun muncul karena anjloknya harga minyak akibat meningkatnya optimisme bahwa upaya diplomatik dapat mengakhiri konflik antara AS dan Iran. Kondisi ini mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.
Di Timur Tengah, Qatar menyatakan bahwa para mediator telah mencatat kemajuan dalam proses negosiasi, sementara Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai paling cepat pada Selasa atau Rabu.
Baca Juga
Rupiah Butuh Pasokan Modal Asing US$ 11 Miliar di Semester II-2026, Ini Alasannya
Sementara itu, investor juga mencermati serangkaian data ekonomi terbaru AS. Jumlah lowongan kerja (job openings) turun lebih besar dari perkiraan menjadi 7,36 juta pada Juni, defisit perdagangan menyempit karena impor turun lebih besar dibandingkan ekspor, dan pesanan pabrik secara tak terduga turun 0,3%, menandai penurunan selama dua bulan berturut-turut.
Perkembangan tersebut menurunkan probabilitas tersirat atau implied probability kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi 57%. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan ketenagakerjaan ADP serta data nonfarm payrolls yang akan dirilis pada Jumat untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
