Rupiah Menguat Usai BI Pertahankan BI Rate di 5,75%
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Posisi rupiah menguat 0,05% menjadi Rp 17.908 per dolar AS.
Sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang dan yuan China menguat 0,06%. Won Korea selatan menguat 0,68%, peso Filipina menguat 0,02%, dan dolar Singapura menguat 0,10%, serta baht Tailan menguat 0,01%.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan salah satu penyebab melemahnya dolar AS yaitu pelaku pasar mempertimbangkan meningkatnya bentrokan militer antara AS dan Iran. Teheran melanjutkan serangan balasan terhadap posisi militer AS di seluruh wilayah, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Baca Juga
IHSG Dibuka Rebound 0,19%, Penguatan Ditopang Kenaikan Sejumlah Saham Ini
Ancaman blokade ini muncul ketika lalu lintas maritim telah terganggu oleh permusuhan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global, yang menambah kekhawatiran bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat semakin mengurangi pasokan yang tersedia dan meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.
Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuannya minggu depan, sementara kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September berada di sekitar 68%.
Baca Juga
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) dalam pertemuan siang ini, memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 5,75%. Bersamaan dengan keputusan ini, BI menetapkan suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.
Adapun, dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas.
