Rupiah Mulai Konstan Bertengger di Rp 18.000 per Dolar AS, Titik Ekuilibrium Baru?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat posisi nilai tukar rupiah telah menembus level Rp18.000 per dolar AS secara konstan sejak 8 Juli 2026. Tren pelemahan ini terus berlanjut hingga pada penutupan perdagangan hari Kamis, 16 Juli 2026, di mana mata uang Garuda bertengger di level Rp18.041 per dolar AS.
Menanggapi kondisi tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan otoritas moneter tidak seberuntung pasar modal yang mendapatkan sentimen positif dari laporan S&P Global yang mempertahankan outlook stabil untuk Indonesia.
Hal ini terjadi karena pasar valuta asing telah ditutup pada pukul 15.00 WIB, sementara laporan dari S&P Global baru dirilis ke publik sekitar pukul 15.30 hingga 15.45 WIB sehingga pasar valas tidak sempat merasakan dampaknya.
“Kalau kami di pasar valuta asing kan tutup pukul 15.00 WIB. Sementara itu [laporan S&P Global] keluar sekitar pukul 15.30-15.45 WIB,” kata Destry, saat acara Investment Forum 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia, dikutip Kamis (16/7/2026).
Destry mengakui bahwa nilai tukar rupiah saat ini mengalami tekanan yang sangat luar biasa dari pihak asing, ditambah dengan adanya masalah pada faktor kepercayaan dari investor.
Kondisi ini dipicu oleh lonjakan indeks dolar AS (DXY) yang membuat para pelaku pasar global memilih untuk mengamankan aset mereka di aset berdenominasi dolar AS serta komoditas.
Baca Juga
Rupiah Melemah ke Rp18.070 per Dolar AS, DXY Turun Usai Inflasi AS Melandai
Melihat fluktuasi tajam mata uang Garuda, pada saat yang sama Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai posisi rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS merupakan sebuah titik ekuilibrium baru. Menurutnya, pelemahan nilai tukar ini terjadi akibat imbas tekanan geopolitik global.
“Kita harus mulai menyadari sepenuhnya bahwa nilai tukar kita berada pada sebuah titik baru yang mau tidak mau harus harus disadari,” ujar Misbakhun.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Lead Economist Bank Danamon, Faiz Irman, yang menilai posisi rupiah saat ini belum dapat dikategorikan sebagai titik ekuilibrium baru.
Faiz berpendapat bahwa kondisi sekarang merupakan bentuk keseimbangan sementara yang tercipta akibat kombinasi sentimen eksternal terhadap aset negara berkembang yang lebih berisiko, serta meningkatnya premi risiko domestik.
Ia memaparkan bahwa dari sisi global, dolar masih kuat karena suku bunga AS yang tinggi dan ketidakpastian geopolitik. Sementara dari faktor domestik, menyempitnya surplus perdagangan, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, kebutuhan pembayaran utang valas, serta ketidakpastian dari arah kebijakan turut menekan sentimen investor.
“Dari sisi global, dolar masih kuat karena suku bunga AS yang tinggi dan ketidakpastian geopolitik. Dari domestik, menyempitnya surplus perdagangan, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, kebutuhan pembayaran utang valas, serta ketidakpastian dari arah kebijakan turut menekan sentimen investor,” ujar Faiz, kepada investortrust.id.
Faiz menambahkan bahwa ruang bagi penguatan rupiah sebenarnya tetap terbuka di masa mendatang apabila tekanan global mulai mereda dan harga minyak dunia konsisten bergerak turun. Kendati demikian, penguatan tersebut baru dapat terealisasi secara optimal ketika kredibilitas kebijakan domestik ikut membaik.
“Namun, dalam jangka pendek rupiah kemungkinan masih bertahan di sekitar level saat ini karena premi risikonya belum sepenuhnya turun,” kata dia.
Dengan rupiah bertahan di atas Rp 18.000 dan inflasi mendekati batas atas target BI, Faiz memperkirakan bank sentral akan menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps bulan ini menjadi 6,00%.
Ruang kenaikan lanjutan juga masih terbuka, dengan terminal rate berpotensi mencapai 6,25% pada akhir tahun apabila tekanan terhadap rupiah dan inflasi tetap persisten.
“Saya rasa jika BI menempuh langkah ini dan fiskal terus membaik dan sesuai dengan target-target yang disampaikan Kemenkeu untuk semester II-2026 nanti, ada potensi rupiah bisa menguat,” ujar dia.
