Rupiah Melemah ke Rp17.738 per Dolar AS, Pasar Cermati Suku Bunga The Fed dan BoJ
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (17/6/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,07% menjadi Rp17.738 per dolar AS pada pukul 09.04 WIB.
Pelemahan rupiah terjadi seiring pergerakan beragam mata uang Asia. Baht Thailand melemah 0,02% dan won Korea Selatan turun 0,34%. Sebaliknya, dolar Hong Kong menguat 0,02%, peso Filipina naik 0,03%, dolar Singapura bertambah 0,02%, rupee India menguat 0,16%, dan yen Jepang naik 0,06% terhadap dolar AS.
Baca Juga
Luxury Meets Low Carbon: The $284 Million Green Loan Transforming Jakarta's High-End Real Estate
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pasar saat ini menanti hasil rapat Federal Reserve pada 17 Juni 2026. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuannya. Ketua The Fed Kevin Warsh yang untuk pertama kalinya memimpin rapat tersebut diprediksi mengambil sikap cenderung dovish, meskipun mayoritas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) dinilai semakin hawkish akibat risiko inflasi yang masih tinggi.
Di tengah penantian keputusan The Fed, pasar juga merespons langkah Bank of Japan (BoJ) yang menaikkan suku bunga acuan jangka pendek sebesar 25 basis poin menjadi 1,0% melalui hasil pemungutan suara 7-1 pada pertemuan Juni. Kenaikan tersebut membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi sejak September 1995 dan sesuai dengan ekspektasi pasar.
BoJ menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Bank sentral Jepang menilai inflasi berpotensi melampaui target 2%, meskipun kondisi moneter masih cukup akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga
Saham ISAT dan EXCL Jadi Unggulan di Tengah Awal Siklus Investasi 5G, Bagaimana Prospeknya?
Sementara itu, kesepakatan perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz dinilai berpotensi mengurangi tekanan harga energi global. Harga minyak mentah Brent pun terus menurun dan berada di bawah US$80 per barel, dengan kontrak Brent Agustus 2026 diperdagangkan pada level US$79,46 per barel.
Di sisi lain, harga ekspor Amerika Serikat meningkat 1,3% secara bulanan pada Mei 2026, sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 1,2%. Kenaikan tersebut menjadi peningkatan bulanan keenam berturut-turut, didorong oleh naiknya harga ekspor non-pertanian, termasuk pasokan dan bahan industri, barang modal, produk otomotif, serta barang konsumsi.
