BPS Catat Emas Perhiasan Deflasi Tiga Bulan Berturut-turut hingga Mei 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas emas perhiasan mengalami deflasi secara bulanan pada Mei 2026. Emas perhiasan atau HS 7109 mengalami sebesar deflasi 2,67% dengan andil 0,06%. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini menyebut komoditas emas perhiasan telah mengalami deflasi yang selama tiga bulan berturut-turut.
“Pada Mei 2026, emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 2,67% dengan andil deflasi 0,06%. Komoditas ini telah mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut sejak Maret hingga Mei 2026,” ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, saat rilis BPS, Selasa (2/6/2026).
Mengacu pada data BPS, sejak Maret 2026 emas telah mengalami deflasi 1,17%, diikuti pada April 2026 dengan deflasi 3,76%.
“Selama Maret-Mei 2026 terjadi koreksi harga emas global kondisi tersebut ini tentunya sejalan dengan penurunan harga emas pada pasar domestik sehingga pada Maret-Mei 2026, komoditas emas perhiasan perhiasan secara bulan mengalami deflasi,” kata dia.
Masih berdasarkan data BPS, harga tertinggi emas tercatat pada Januari 2026 sebesar US$ 5.019,97 per troy ons. Harga ini kemudian melorot selama tiga bulan terakhir menuju US$ 4.587,21 per troy ons pada April 2026.
Baca Juga
Dolar Menguat, Harga Emas Antam (ANTM) Susut Jadi ke Rp 2,774 Juta
Meski terjadi penurunan, harga emas yang tinggi masih menjadi penyumbang inflasi pada kelompok inti. Kelompok inti mengalami inflasi sebesar 2,59% secara tahunan dengan andil terhadap inflasi sebesar 1,66%.
“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti adalah emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi, kemudian sewa rumah dan mobil,” ujar dia.
Di tengah penurunan harga emas tersebut, impor emas perhiasan mengalami peningkatan. Pada April 2026 ini, impor emas Indonesia mencapai 2,5 ton dengan nilai US$ 377,2 juta.
Tiga negara asal emas terbesar yaitu Australia sebesar 1,3 ton atau senilai US$ 199,2 juta dengan porsi 52,81%, diikuti Hong Kong sebesar 533 kilogram atau senilai US$ 81,7 juta, dan Uni Emirates Arab sebesar 240 kilogram atau senilai US$ 36,4 juta.

