Seusai Libur Panjang, Rupiah Tertekan Saat Dolar AS Menguat dan Harga Minyak Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (2/6/2026) setelah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong penguatan dolar AS dan memicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi global.
Rupiah terdepresiasi 0,31% ke posisi Rp 17.860 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga berada di zona negatif terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Yen Jepang melemah 0,03%, peso Filipina turun 0,02%, dolar Singapura terkoreksi 0,01%, dan won Korea Selatan melemah 0,24%. Di sisi lain, yuan China menguat 0,03%, rupee India naik 0,01%, sedangkan baht Thailand menguat 0,09% terhadap dolar AS.
Baca Juga
Purbaya: Pelemahan Rupiah Belum Berdampak ke APBN 2026, 2-3 Bulan Lagi Bakal Menguat
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan penguatan dolar AS tercermin dari kenaikan Indeks Dolar AS atau DXY ke level 99,2. Angka tersebut melanjutkan kenaikan sebesar 0,9% sepanjang Mei 2026.
Penguatan dolar terjadi seiring munculnya hambatan baru dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan ketidakpastian geopolitik sekaligus mendorong harga minyak lebih tinggi.
Media Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan komunikasi dengan Washington setelah serangan di Lebanon dan tengah mempersiapkan langkah untuk menutup sepenuhnya Selat Hormuz. Sebelumnya, saling serang militer antara Amerika Serikat dan Iran telah memunculkan keraguan terhadap peluang tercapainya kesepakatan diplomatik dalam waktu dekat.
Pasar menilai potensi penutupan Selat Hormuz menjadi risiko serius bagi pasokan energi global. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu titik strategis distribusi minyak dunia sehingga gangguan yang berkepanjangan dapat memicu lonjakan harga energi.
Andry menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global melalui kenaikan harga energi. Kondisi itu dapat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang.
Peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed pada Desember saat ini diperkirakan berada di atas 60%, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi yang kembali meningkat akibat ketegangan geopolitik.
Data Ekonomi AS Solid
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan yang kuat. Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur versi S&P Global naik menjadi 55,1 pada Mei 2026 dari 54,5 pada April.
Meski sedikit di bawah estimasi awal sebesar 55,3, angka tersebut menandai ekspansi sektor manufaktur AS yang paling kuat sejak Mei 2022. Kinerja tersebut didukung oleh lonjakan produksi terbesar sejak April 2022 dan pertumbuhan pesanan baru yang tetap solid.
Baca Juga
Data ekonomi yang kuat berpotensi memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat guna memastikan inflasi tetap terkendali. Situasi ini turut menopang penguatan dolar AS di pasar global.
Sementara itu, harga emas diperdagangkan di bawah US$ 4.500 per ons. Logam mulia tersebut tertekan oleh mandeknya negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang membuat risiko inflasi dan arah suku bunga tetap menjadi perhatian utama investor.
Pada Senin, media Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan komunikasi dengan Washington sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Perkembangan tersebut semakin memperkuat sentimen hati-hati di pasar keuangan global dan mendorong investor memburu aset berbasis dolar AS.

