Pelemahan Rupiah Dorong Ekspor? Ekonom: Itu Keliru!
Poin Penting
|
MAKASSAR, investortrust.id - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede membantah pernyataan tentang manfaat dari pelemahan rupiah yang digaungkan beberapa pemengaruh di media sosial. Para pemengaruh itu menyebut pelemahan rupiah dapat mendorong ekspor komoditas Indonesia dan menjadikannya keuntungan.
“Ini sangat keliru, totally wrong ya,” kata Josua, saat taklimat media, di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).
Josua menjelaskan, dalam struktur fundamental perekonomian Indonesia, pelemahan terhadap rupiah karena menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) membuat sektor industri manufaktur kena getahnya. Tetapi, bagi pengekspor komoditas, pelemahan rupiah akan menguntungkan.
“Kalau kita bicara industri manufaktur, yang harus mengimpor dulu bahan baku, ini pasti akan memberatkan,” ujar dia.
Baca Juga
Soroti Risiko 'Huru-Hara' Akibat Rupiah Ambrol, BRIN: Kritik The Economist Relatif Relevan
Josua menerangkan Bank Indonesia (BI) berperan menjadi stabilisator nilai tukar rupiah. Tugas menjaga ini penting bagi para pengusaha agar memiliki patokan untuk memproyeksi impor bahan baku.
“Kalau rupiah stabil, dia [pelaku usaha] akan mengatur rupiah atau dolarnya di level berapa. Dia [pelaku usaha] pasti kan butuh perencanaan dan dia akan berkomunikasi kepada supplier di negara asal barang tersebut,” jelas dia.
Melihat kondisi nilai tukar Mata Uang Garuda saat ini, Josua tak membantah bahwa posisi rupiah yang undervalued. Berdasarkan Bank International Settlement atau BIS, effective exchange rate rupiah masih di bawah 100.
“Artinya, dia sudah undervalued di posisi nominalnya pada saat itu, sekitar di Rp 17.000-an,” kata dia.
Baca Juga
Ekonom Sebut Kebijakan DHE Tak Serta-merta Dongkrak Nilai Tukar Rupiah Secara Riil
Meski nilai rupiah seharusnya berada di bawah Rp 17.000 per dolar AS, Josua menerangkan tak perlu memaksakan posisi itu segera terwujud. Sebab, dia menyadari ada faktor musiman yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
“Ada seasonal factor, dari permintaan valas domestik, ada ibadah haji, dan juga ada pembayaran dividen, repatriasi, lalu juga ada sentimen yang belum diselesaikan terkait dengan MSCI,” kata dia.

