Bagikan

Jurus BI Balikkan Posisi Rupiah Terhadap Dolar AS: Naikkan BI Rate dan Ubah Struktur Bunga SRBI

Poin Penting

Bank Indonesia resmi menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,2% demi stabilitas eksternal.
BI turut mendongkrak suku bunga instrumen SRBI hingga menyentuh 6,45% untuk tenor 12 bulan.
Kenaikan suku bunga berhasil memicu net inflows portofolio asing senilai US$ 5,5 miliar pada kuartal II.

JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan keputusan menaikkan suku bunga bank sentral atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,2% akan mampu mendorong masuknya investor asing ke dalam negeri. Berdasarkan data Investing.com, rupiah sempat menyentuh Rp 17.598 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 16.00 WIB.

“Dalam perumusan respons kebijakan termasuk kenaikan BI Rate, dan betul-betul mengutamakan, stabilitas ketahanan eksternal di tengah gejolak global,” ujar Perry, saat paparan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI, Rabu (20/5/2026).

Selain menaikkan BI Rate, Perry juga mengungkap telah mengubah struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). BI menaikkan suku bunga SRBI untuk tenor 6 bulan menjadi 6,21%, tenor 9 bulan menjadi 6,31%, 12 bulan menjadi 6,45% pada 13 Mei 2026.

Dengan perubahan tersebut, investasi portofolio asing pada kuartal II-2026 mencatatkan net inflows sebesar US$ 5,5 miliar.

“Kami meyakini inflow akan tetap besar ke dalam negeri dan tentu saja akan mencukup kebutuhan permintaan valas di bulan Juni yang masih cukup besar,” ujar dia.

Baca Juga

Presiden Sampaikan KEM-PPKF dan Rapat RDG, Rupiah Masih Terjerembab

Di tengah aliran dana asing yang masuk, Perry melihat faktor permintaan valas di pasar domestik yang terjadi sejak April hingga Juni mulai mereda. Dengan kondisi ini, Perry tetap yakin bahwa penguatan rupiah dapat terjadi mulai Juli dan Agustus.

Sebelumnya diberitakan, Perry menyebut rupiah dalam undervalue yaitu ukuran rupiah sesuai asumsi makro sebesar Rp 16.500 per US$. Dalam tiga bulan terakhir, April, Mei, dan Juni, permintaan dolar AS yang tinggi menekan nilai tukar rupiah hingga menembus rekor tertinggi sebesar Rp 17.600 per US$.

Faktor global yang saat ini sedang terjadi memang menjadi salah satu penyebab rupiah tertekan. Ini bukan yang pertama kali terjadi. Pada 2025, kebijakan tarif resiprokal AS membuat rupiah menembus Rp 17.000 per US$.

“Terus, kami buat menguat tahun lalu,” ujar dia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024