Rupiah Tembus Rp 17.726 per Dolar AS, BI Bagikan Perspektif tentang Stabilitas
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menembus Rp 17.726 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan paruh hari Selasa (19/5/2026) berdasarkan data Bloomberg. Meski telah melampaui proyeksi nilai tukar dalam asumsi makro APBN 2026, Bank Indonesia (BI) melihat posisi rupiah secara rerata tahunan masih dalam kondisi stabil.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan perspektif lembaganya tentang stabilitas rupiah. Menurutnya, BI mendapat mandat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bukan tingkat nilai tukar rupiah.
“Yang disebut stabilitas adalah volatilitas nilai tukar rupiah yang average-nya 20 hari,” ujar Perry, saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Baca Juga
IHSG kembali Terkapar 2,49% Jelang Penutupan Sesi I, Ikut Kejatuhan Rupiah ke Level Terendah Baru
Berdasarkan hitungan tersebut, standar deviasi dari rupiah mencapai terdepresiasi 5,4% secara year to date.
“Average year to date sekarang (Senin, 18 Mei 2026) rupiah sekarang Rp 16.900 sekian. Berarti di atas ini, tapi yang kita bicarakan average tahunan,” kata dia.
Rentang rerata tahunan nilai tukar rupiah, yaitu Rp 16.200 per dolar AS hingga Rp 16.800 per dolar AS, dengan nilai fundamental Rp 16.500 per dolar AS.
Perry meyakini posisi rupiah akan berada dalam rentang rerata tahunannya. Dia meramalkan posisi rupiah akan kembali “normal” mulai Juli hingga September 2026.
“Kami lihat dengan keyakinan, April, Mei, Juni memang demamnya tinggi, tapi mulai Juli, Agustus, September, rupiah akan menguat,” kata dia.
Perry mengatakan berdasarkan keseluruhan tahun, nilai tukar rupiah masih dalam kisaran yang ada dalam APBN 2026, yaitu Rp 16.500 per dolar AS. Meski begitu, untuk menurunkan rerata tersebut, BI sedang mengkalkulasi biaya stabilisasi rupiah. Penghitungan biaya ini sekaligus membantah pelemahan rupiah sengaja dibuat oleh BI.
“Kami tidak ada niatan semuanya (surplus dari transaksi valas) untuk neraca BI. Surplus BI ke pemerintah semua, pajaknya tinggi, kami bayar juga,” jelas dia.
Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun meminta Perry menjaga betul posisi rupiah di Rp 16.500 per dolar AS. Hal itu sebagai bentuk penghormatan atas kesepakatan politik dalam menentukan angka tersebut.
Mendengar proyeksi BI, Misbakhun berharap posisi rupiah berada di Rp 16.000 per dolar AS mulai pertengahan tahun.
“Kalau begitu, sepanjang nanti di akhir tahun, di pertengahan bulan, di pertengahan semester, rupiah harus di kisaran Rp 16.000 (per dolar AS) flat, supaya Rp 16.500 (per dolar AS) itu dapat. (Rupiah) harus Rp 16.000 (per dolar AS) karena sekarang (rupiah) sudah Rp 17.000 (per dolar AS)," kata dia.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan saat ini cadangan devisa Indonesia masih tangguh untuk melakukan intervensi. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar US$ 146,2 miliar.
“Level tersebut tetap kuat dan memadai dalam mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional,” ujar Ramdan.
Baca Juga
Rupiah Melemah ke Rp 17.692 per Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Loyo
Ramdan mengatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan sekitar 114% dari ukuran kecukupan cadangan devisa berdasarkan standar internasional yang ditetapkan oleh IMF dan mencerminkan kuatnya ketahanan eksternal Indonesia.
“BI senantiasa mengelola cadangan devisa secara terukur guna mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah, menjaga kepercayaan pasar, serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global,” kata dia.

