Rupiah Sempat Tembus Rp 17.600 per US$, BI Bakal Naikkan Suku Bunga?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah sempat menembus level Rp 17.600 per US$ pada perdagangan paruh hari Jumat (15/5/2026). Saat dipantau dari papan data Bloomberg pukul 13.59 WIB, rupiah telah menguat satu poin ke Rp 17.599 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan kebutuhan dolar yang cukup tinggi di dalam negeri turut menekan nilai tukar mata uang Garuda. Salah satu kebutuhan dolar yang tinggi itu untuk membayar impor minyak mentah.
“Sehingga kekuatan untuk dolar cukup tinggi dan berdampak negatif terhadap mata uang rupiah,” kata Ibrahim, Jumat (15/5/2026).
Dengan tekanan yang terjadi, Ibrahim menyebut nilai tukar rupiah dapat menembus level yang jauh lebih tinggi. Untuk itu, selain intervensi yang sudah dilakukan, Bank Indonesia (BI) diproyeksi akan menggunakan kebijakan kenaikan BI-Rate.
“Cara satu-satunya ada kemungkinan besar, bank sentral Indonesia, dalam pertemuan bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga,” kata dia.
Kenaikan suku bunga yang diambil BI berkisar antara 25 basis poin (bps) sampai dengan 50 bps. Tujuannya, untuk menstabilkan mata uang rupiah.
“Dalam kondisi saat ini, sangat sulit bagi BI tetap mempertahankan suku bunga, tapi ada kemungkinan Mei, BI akan menaikkan suku bunga. Tujuannya menstabilkan mata uang rupiah,” kata dia.
Baca Juga
Dalam berita sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso melihat tekanan yang dihadapi rupiah beberapa pekan terakhir terjadi karena sejumlah faktor. Dia mengatakan dinamika global mendorong meningkatnya suku bunga di AS.
“Kalau kita lihat sekarang, US Treasury 10 tahun sudah mendekati 4,5%. Akhir Februari masih sekitar 4%. Termasuk juga dengan kecenderungan menguatnya indeks dolar AS,” kata dia.
Faktor eksternal ini membuat sejumlah mata uang di kawasan negara berkembang Asia turut terdepresiasi. Selain rupiah, terjadi pelemahan pada peso Filipina, baht Tailan, dan rupee India, serta won Korea Selatan.
Di dalam negeri, rupiah mengalami tekanan karena adanya musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan tahunan. BI telah mengantisipasi kondisi ini dengan mengeluarkan tujuh langkah untuk menguatkan rupiah.

