Purbaya: Fondasi Ekonomi Indonesia Kokoh, Modal Asing Mulai Masuk
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Para investor melihat fondasi ekonomi Indonesia sangat bagus di tengah banyaknya isu negatif sebelumnya. Hal ini tercermin pada modal asing yang mulai masuk kembali pada bulan April 2026, terutama pada instrumen SBN dan SRBI, dengan nilai bersih mencapai Rp 38,5 triliun. Walaupun masih ada yang keluar di saham.
“Masuknya modal ini diharapkan akan memperkuat nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamentalnya,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat paparan APBN KiTA, Selasa (5/5/2026).
Purbaya menegaskan pemerintah akan terus memperbaiki kondisi ekonomi dari waktu ke waktu dengan memastikan permintaan domestik tetap kuat dan daya saing barang produksi Indonesia di pasar global semakin baik. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memanggil perusahaan-perusahaan di sektor tekstil dan sepatu yang membutuhkan peremajaan mesin untuk diberikan bunga rendah melalui program dari Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia (LPEI).
“Saya akan berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk mendata perusahaan mana saja yang membutuhkan dukungan tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, sektor swasta akan lebih dihidupkan karena kontribusinya mencapai kisaran 90% terhadap perekonomian nasional. Saat ini, surplus neraca perdagangan menjadi penopang ketahanan eksternal Indonesia. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, ekspor mencapai US$ 66,84 miliar dengan impor sebesar US$ 61,30 miliar.
“Barang-barang kita terbukti masih bersaing di pasar global, dengan catatan surplus terakhir sebesar US$ 3,32 miliar,” jelasnya.
Baca Juga
Purbaya Ungkap Peran Dana SAL Rp 300 T di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61%
Selain itu, aliran modal asing mulai kembali masuk setelah sempat tertekan. Purbaya menyebut bahwa investor melihat fondasi ekonomi Indonesia sangat solid. Masuknya modal ini diharapkan memperkuat nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamental. Di sektor perbankan, kredit tumbuh 9,5% pada Maret, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,6%.
“Dulu waktu saya di LPS senang sekali kalau DPK tumbuh 6% dengan Rp 17 triliun. Kalau tumbuh 13%, saya bisa dapat dua kali lipat,” ujarnya.
Lebih lanjut, laju pertumbuhan uang primer atau base money (M0) pada pekan kedua April tumbuh hingga 18%, dengan rata-rata pertumbuhan tahun ini double digit. Hal ini, kata Purbaya merupakan sinyal kuat bahwa pemerintah dan bank sentral menjaga suplai uang di sistem tetap cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Jika tren ini bertahan di 18% atau katakanlah 15%, kredit akan terus tumbuh dan ekonomi berjalan lebih cepat karena sektor swasta mulai bergerak,” kata Purbaya.
Hasil kebijakan konsisten tersebut mulai terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61%. Dengan tren penurunan suku bunga yang menurunkan beban modal, fondasi ekonomi diperkirakan mampu tumbuh menuju 6% secara bertahap.
Terkait kekhawatiran inflasi akibat banyaknya uang beredar, Purbaya menegaskan isu hiperinflasi tidak berdasar. “Data per April menunjukkan inflasi kita berada di angka 2,4%. Ini angka yang sempurna, masih terkendali dan sesuai target sasaran di level 2 plus minus 1%,” tegasnya. Ia memastikan kenaikan harga tidak menggerus daya beli masyarakat secara signifikan dan pemerintah akan terus menjaga inflasi agar daya beli tetap terlindungi.

