Rupiah Catat Pelemahan Terdalam Sepanjang Sejarah, Tembus Rp 17.408 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Rupiah dibuka melemah 0,01% menjadi Rp 17.395 per US$ pada pukul 09.02 WIB berdasarkan data Bloomberg.
Berselang 15 menit, rupiah terdampar makin dalam. Mata Uang Garuda loyo dan mencatatkan pelemahan terdalam di posisi Rp 17.408 per US$ pada pukul 09.26 WIB. Pada Senin (4/5/2026), rupiah telah melemah dan mencatatkan rekor pelemahan di posisi Rp 17.394 per US$.
Indeks dolar AS (DXY) berada di posisi menguat tipis di 98,48. Kondisi ini membuat sejumlah mata uang negara Asia turut melemah. Beberapa mata uang di Asia seperti yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan China terpantau masih menguat. Yen menguat 0,03%, dolar Singapura menguat 0,06%, dan yuan menguat 0,16%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro melihat kondisi rupiah yang tertekan ini karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
“AS dan Iran saling melancarkan serangan dan Uni Emirat Arab juga terlibat. Eskalasi ini terjadi setelah rencana yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump untuk mendukung kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang mendorong Teheran memperingatkan akan menargetkan pasukan AS yang mendekat,” kata Andry.
Kondisi ini mendorong lonjakan kembali harga minyak. Dengan naiknya harga minyak, pasar mengkhawatirkan terjadinya inflasi. Sebagai imbasnya, imbal hasil US Treasury 10 Tahun naik 6,84 basis poin atau bps ke 4,44% atau naik 27,1 bps sejak awal tahun.
Andry mengatakan PMI Manufaktur AS versi S&P Global direvisi naik menjadi 54,5 pada April 2026, dari estimasi awal 54,0 dan lebih tinggi dari 52,3 pada Maret, menandakan ekspansi terkuat di sektor manufaktur sejak Mei 2022. Pesanan baru meningkat pada laju tercepat dalam empat tahun, meskipun ekspor masih turun selama sebelas bulan berturut-turut akibat tarif dan konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, pesanan pabrik AS naik 1,5% secara bulanan menjadi US$ 630,4 miliar pada Maret 2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 0,5%, dan mengikuti revisi kenaikan Februari menjadi 0,3%. Pesanan baru untuk barang manufaktur tahan lama meningkat 0,8% menjadi US$ 318,9 miliar, mengakhiri penurunan selama tiga bulan berturut-turut.

