Manufaktur Menjadi Pilar Utama Ekonomi Nasional di Tengah Tekanan Global yang Kian Dinamis
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pemerintah Indonesia terus memperkuat strategi nasional untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang semakin kompleks.
Eskalasi konflik geopolitik hingga disrupsi rantai pasok dunia saat ini memberikan tekanan signifikan terhadap kinerja industri serta stabilitas ekonomi domestik. Dalam menghadapi tantangan tersebut, Pemerintah mengambil langkah strategis yang terintegrasi guna memastikan perekonomian nasional tetap tumbuh secara resilien dan berkelanjutan.
Sektor industri pengolahan, khususnya manufaktur, kini diposisikan sebagai pilar utama dalam menopang struktur ekonomi nasional. Sebagai sektor dengan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, investasi, serta ekspor, manufaktur memiliki peran krusial dalam menciptakan nilai tambah ekonomi.
Pada tahun 2025, pertumbuhan industri pengolahan tercatat mencapai 5,30%, angka yang berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11% sekaligus menjadi indikasi positif bagi penguatan ekonomi ke depan.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono, dalam acara Business Indonesia Forum: Indonesia Emas 2045, Manufaktur Harus Jadi Panglima pada Kamis (30/4/2026), menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap fluktuasi global.
“Dinamika global ini yang namanya ketidakpastian itu luar biasa, apalagi dengan berbagai konflik yang terjadi. Kita harus antisipasi karena dampaknya bisa berlangsung beberapa bulan ke depan dan memengaruhi berbagai sektor ekonomi,” ungkap Susiwijono dikutip dari laman Kemenko Perekonomian.
Baca Juga
Peringati May Day, Kemenperin Akselerasi Kompetensi SDM Industri untuk Perkuat Manufaktur Nasional
Industri pengolahan diidentifikasi sebagai salah satu sektor yang paling rentan terdampak oleh dinamika global, terutama akibat gangguan rantai pasok yang menghambat ketersediaan bahan baku. Kenaikan harga input produksi serta kendala logistik berpotensi menekan kinerja industri baik dari sisi produksi maupun distribusi barang. Menanggapi situasi ini, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi sebagai langkah nyata percepatan program prioritas.
Susiwijono menjelaskan bahwa keberadaan satgas tersebut sangat efektif karena mampu menyentuh level kebijakan sekaligus menjaga kepentingan ekonomi secara teknis.
“Intinya ini percepatan program untuk dorong ekonomi, tapi sangat efektif, karena selain bicara di level policy, kita juga pegang kepentingan ekonomi. Dengan koordinasi yang intensif, diharapkan ini bisa menjadi solusi saat para investor dan pelaku industri menghadapi berbagai kerumitan, sehingga ada kepastian dan harapan untuk penyelesaiannya,” jelasnya lebih lanjut.
Sebagai langkah mitigasi konkret, Pemerintah telah menyiapkan rangkaian kebijakan pendukung yang mencakup kemudahan akses bahan baku serta penyesuaian kebijakan impor guna menjaga keberlangsungan operasional industri. Pengawasan ketat terus dilakukan terhadap sektor-sektor yang paling terdampak agar respons kebijakan dapat dieksekusi secara cepat dan tepat sasaran.
Selain itu, stabilitas makroekonomi melalui pengendalian inflasi, nilai tukar, dan daya beli masyarakat tetap menjadi prioritas utama yang disinergikan melalui kebijakan fiskal serta moneter yang hati-hati.
Segala upaya tersebut diharapkan mampu menjaga iklim usaha agar tetap kondusif bagi para investor di sektor manufaktur. Susiwijono memungkasi pernyataannya dengan mengingatkan bahwa gangguan pada rantai pasok global memiliki efek domino yang luas jika tidak segera diantisipasi. “Dinamika global saat ini betul-betul berpengaruh terhadap industri manufaktur dari segala sisi, baik dari sisi bahan baku maupun produksi. Gangguan rantai pasok ini harus kita antisipasi bersama, karena dampaknya bisa meluas ke inflasi, nilai tukar, hingga daya beli masyarakat,” tutupnya.

