Potensi Perputaran Uang Libur Idulfitri Capai Rp 157,3 Triliun
Oleh Sarman Simanjorang,
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Pengembangan Otonomi Daerah
INVESTORTRUST.ID - Animo masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik pada liburan Idulfitri tahun ini mengalami kenaikan yang signifikan, dibanding tahun lalu. Hal ini merupakan indikator bahwa kondisi keuangan masyarakat pascapandemi Covid-19 sudah semakin membaik.
Tahun lalu, jumlah pemudik mencapai 123,8 juta orang atau naik 14,2% dari tahun 2022. Sedangkan tahun 2024, Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik naik menjadi 193,6 juta orang, atau 71,7% dari jumlah penduduk Indonesia.
Kenaikan jumlah pemudik tersebut akan mengerek kenaikan perputaran uang yang sangat besar di seluruh pelosok Tanah Air. Ini khususnya daerah tujuan mudik dan destinasi wisata.
Baca Juga
Dharma Jaya Prediksi Harga Daging Sapi Naik hingga 10% Jelang Idulfitri
48,4 Juta Keluarga
Dengan jumlah pemudik diperkirakan mencapai 193,6 juta orang, jika jumlah per keluarga dirata-ratakan 4 orang, maka pemudik setara dengan 48,4 juta keluarga. Dengan asumsi setiap keluarga membawa uang rata-rata Rp 3,25 juta, maka perputaran uang selama Ramadan dan Idulfitri 1445 H ini diperkirakan mencapai 157,3 triliun.
Jumlah tersebut masih berpotensi naik, karena penulis mengalikan dengan angka minimal atau moderat. Perputaran uang tersebut akan menyebar di berbagai sektor usaha, seperti ritel, fashion, makanan dan minuman, BBM, transportasi darat (bus, mobil rental, kreta api, mobil pribadi, dan motor), transportasi laut (kapal penumpang dan penyeberangan), hingga transportasi udara (pesawat).
Juga dipastikan akan mengalir ke sektor pariwisata dan yang terkait. Ini seperti hotel, motel, vila, restoran, café, minimarket, aneka warung/toko, destinasi wisata/taman hiburan, usaha kecil dan menengah (UKM) makanan khas daerah, souvenir, batik, kain khas daerah, dan aneka produk unggulan lainnya.
Perputaran uang ini akan menyebar di seluruh pelosok Tanah Air, terutama daerah yang menjadi tujuan utama mudik seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten, dan Jabodetabek, yang diperkirakan mencapai 62% dari jumlah penduduk. Sisanya akan menyebar di Sumatra, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kerek Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
Dengan perputaran dana yang cukup besar tersebut, dipastikan ekonomi daerah akan produktif dan mendorong meningkatnya konsumsi rumah tangga. Perputaran uang selama bulan Ramadan dan Idulfitri 1445 sangat signifikan untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I-2024, yang akan menjadi modal awal untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun 2024 bertahan di angka 5% atau syukur bisa di atas.
Baca Juga
Tiket.com Sebut Pemesanan Tiket Transportasi Naik hingga 60,8% Jelang Mudik Lebaran
Perputaran uang tersebut juga akan meningkatkan pendapatan asli daerah di masing-masing daerah tujuan mudik. Ini berasal dari pajak hotel, restoran, café, retribusi masuk destinasi wisata, dan lain-lain selama musim libur Idulfitri ini.
Jadi, diharapkan pemerintah daerah dapat membantu kelancaran arus mudik. Selain itu, memastikan para pengusaha di daerah tujuan tidak menaikkan harga yang jor-joran, yang membuat para pemudik enggan membelanjakan uangnya.
Seperti tarif masuk ke lokasi wisata, tarif hotel/penginapan, harga makanan/minuman, serta harga makanan khas daerah atau oleh-oleh, diharapkan tidak mengalami kenaikan yang memberatkan konsumen. Pelaku usaha di daerah tujuan mudik harus dapat menciptakan pelayanan yang berkesan dan menyenangkan, sehingga para pemudik tidak ragu membelanjakan uangnya selama liburan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan. Kelancaran lalu lintas diupayakan, khususnya pasar tumpah yang sering sekali memakan jalan lintasan selama libur Lebaran agar ditertibkan.
Remitansi
Disamping perputaran uang pemudik, beberapa daerah juga akan mendapatkan perputaran uang tambahan dari kiriman TKI dari luar negeri, atau remitansi. Jumlahnya diperkirakan juga mengalami pertumbuhan, diprediksi sekitar 25-30% selama bulan Ramadan dan Idulfitri 1445 H.
Remintasi merupakan kiriman pekerja migran kepada keluarganya di Tanah Air, guna persiapan perayaan Idulfitri. Kiriman ini dari berbagai negara, seperti Arab Saudi, Cina, Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia dan beberapa negara lainnya.
Sepuluh provinsi pengirim TKI paling banyak dan akan mendapatkan kiriman remitansi antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Bali, Sumut, Banten, Yogyakarta, dan DKI Jakarta, yang tahun ini diperkirakan sebanyak Rp 1,5 triliun dari 274.965 pekerja migran.
Di tengah tekanan kondisi ekonomi global yang tidak pasti, momentum Idulfitri tahun ini sangat strategis mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, dan meningkatkan geliat ekonomi di seluruh Nusantara. Budaya mudik untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga di kampung halaman menjadi saranaperputaran uang terbesar di Indonesia, yang produktif.
Perputaran ini akan mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga, menggerakkan perekonomian daerah, sekaligus memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Harapan kita, mudik tahun ini berjalan lancar, aman, meriah, penuh kenangan, dan para pemudik dapat berbelanja serta berwisata, sambil menikmati aneka kuliner dan produk UMKM. ***

