Legenda Jaz Indonesia Menyajikan Asupan Gizi Untuk Penikmat Musik Jaz di The Habibie & Ainun Library
JAKARTA, investortrust.id - Sekitar seratus undangan dimanjakan telinganya oleh permainan para legenda jazz yang berduet dengan quintet muda musisi jaz Indonesia di The Habibie & Ainun Library, Patra Kuningan, Jakarta, Minggu (17/09/2023) malam, pukul 19.00-22.30. Delapan duta besar (Dubes) hadir dalam acara musik jaz untuk merayakan HUT kemerdekaan RI ke-78 yang digagas oleh Ilham Akbar Habibie, putra tertua BJ Habibie, presiden RI ke-3.
Dalam kesempatan itu Duta Besar (Dubes) Kerajaan Spanyol Francisco de Asis Aguilera Aranda yang didapuk oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri, Umar Hadi untuk membuka acara, "mencuri" kesempatan dan menyerahkan kepada Dwiki Dharmawan, sebuah buku panduan yang diterbitkan di Spanyol untuk musisi dan praktisi jaz di dunia. Menurut Francisco, musik jaz adalah bahasa universal. Selain Francisco hadir pula, Wakil Menteri Luar Negeri, Pahala Mansuri dan istri, Dubes AS, Dubes Irlandia, Dubes Belgia, Dubes Meksiko, Dubes Venezuela, Dubes Swiss, Dubes Norwegian, dan mantan Presiden Swiss Madame Ruth Dreifuss.
Dwiki tampil menghentak pada setlist pertama dengan lagu daerah Kalimantan Barat, Paris Barantai. Dwiki yang pernah membawakan lagu ini bersama Adam Klipple Quartet pada tahun 2007, kini menggandeng quintet muda Indonesia berbakat yaitu, Timothy pada clarinet, Alvin pada gitar, Hansen Arief menggebuk drum dan Joshua Alexander memetik contra bass. Sebagai lagu pembuka, Paris Barantai cukup rancak dan mampu memukau penonton yang tanpa sadar bergoyang atau mengetukkan kaki mereka.
Sihir Dwiki semakin mencengkeram ketika daya magis Rayuan Pulau Kelapa dibawakan dengan tempo yang lebih rendah namun elegan sebagai lagu kedua pada setlist. Keanggunan aransemen Dwiki semakin menguat ketika ia menyajikan komposisi berjudul Pasar Klewer.
Legenda jaz dari Flores, Ivan Nestorman membawakan Awo Flores, Mata Leso, Solamante dengan bahasa daerah yang indah dan menutupnya dengan khotbah malam berjudul Mogi. Ivan membuat penonton bangkit dan saling berdansa ketika ia turun ke tengah mereka dan menyanyikan Mogi bersama. Bukan musik jaz bila tanpa improvisasi dan jam session. Setlist bukanlah hal baku dan sudah biasa diacak untuk menampilkan performa terbaik.
Dewa Bujana bergabung dan langsung menghantarkan aransemen petikan gitar yang kompleks namun menyenangkan ketika Jayaprana dan Joged Kahayangan menembus gendang telinga hadirin. Seluruh indra perasa para penonton mendapatkan asupan gizi yang berkualitas pada malam itu ketika Gita Wirjawan masuk sebagai tamu dan menghipnotis penonton dengan aransemen Concierto de Aranjuez yang lebih cepat dan renyah ketimbang aransemen Miles Davis.
Dwiki sukses membuat gurunya, Candra Darusman untuk turun gunung membawakan Esok Kan Masih Ada. Seolah ingin mengajak para legenda untuk hidup kembali, nomor klasik gubahan Alm. Dodo Zakaria dan dinyanyikan pertama kali oleh Alm. Utha Likumahuwa dibawakan oleh Candra dengan manis untuk memberikan suasana optimisme yang kuat dan tidak menyerah dalam situasi sulit untuk masa depan yang lebih baik. Gilang Ramadhan "dipaksa" maju ke depan oleh host Ilham Habibie dan sukses "mengganggu" pertunjukkan dengan jam session drum-nya yang khas dan berenergi pada akhir sesi. Aplaus dari penonton tidak berhenti dan ketika acara usai pun, para artis tidak henti menerima jabat tangan dan pujian. Kolaborasi para legenda dengan quintet muda berbakat ini akan disusul dengan pertunjukkan musik jaz pada bulan November nanti.

