Intip Momen Seru "Sinau Njoged" Bersama Padepokan Seni Bagong Kussudiardja
Poin Penting
|
YOGYAKARTA, investortrust.id – Kegiatan budaya bertajuk "Setu Sinau ing Malioboro" digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dengan melibatkan sejumlah komunitas seni. Salah satunya Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.
Menyemarakkan libur Tahun Baru Imlek yang segera disusul Ramadhan dan Lebaran, Setu Sinau ing Malioboro (Sabtu Belajar di Malioboro) digelar dengan meriah. Program yang digagas Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta ini akan diluncurkan Sabtu (14/2/2026) pagi di sepanjang Jalan Malioboro sisi timur, sekitaran DPRD DIY.
Pengunjung diajak terlibat langsung dalam pengalaman belajar budaya di ruang publik, dengan konsep yang santai, terbuka, dan interaktif. Kegiatan ini dirancang sebagai street workshop, berupa kelas-kelas budaya singkat yang dapat diikuti siapa saja, baik warga, wisatawan, maupun wisatawan.
Baca Juga
Ada enam kelas budaya diselenggarakan secara paralel, meliputi Sinau Aksara Jawa (belajar Bahasa Jawa), Sinau Nggamel (belajar gamelan), Sinau Ngadi Busana (belajar busana), Sinau Njoged (belajar tari), Sinau Nggambar (belajar melukis), serta Sinau Dolanan Anak (belajar mainan anak).
Seluruh kelas dipandu langsung oleh pelaku dan komunitas seni budaya Yogyakarta yang berpengalaman. Salah satu yang cukup mencuri perhatian wisatawan adalah Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.
Dalam acara pembukaan, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja menampilkan atraksi sejumlah anak-anak yang menari di trotoar Jalan Malioboro. Terlihat pula pengunjung dan wisatawan yang sedang melintas menyempatkan diri terlibat dalam kegiatan ini.
Menurut salah satu pengasuh sekaligus guru tari di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Tini Handonowari, kegiatan ini sangat bagus dan positif untuk menunjang pariwisata di Yogyakarta. Dalam acara ini, mereka memberikan materi Tari Yapong. Uniknya, ini bukan tarian asli Yogyakarta.
Tari Yapong merupakan tarian tradisional kontemporer Betawi yang diciptakan maestro tari Bagong Kussudiardja pada 1977 untuk menyambut HUT Jakarta ke-450. Tarian ini menggambarkan keceriaan dan semangat, dengan gerakan dinamis yang terinspirasi tari rakyat Betawi (Cokek/Topeng) dan unsur pergaulan. Kostumnya berwarna cerah (merah/oranye), menggunakan kemben, batik, serta mahkota khas.
"Kami senang karena dari wisatawan cukup tertarik ingin belajar ngithing, ngruji, ngrukel (teknik dasar seni tari). Wisatawan yang datang ke Yogyakarta juga senang. Kebetulan ini Sabtu, banyak wisatawan yang datang," ujar Tini Handonowari, kepada Investortrust.id.
"Dari kami menampilkan 25 orang (penari anak-anak). Selebihnya, dari pengunjung yang ikut bergabung. Kebetulan ini Sabtu, pengunjungnya banyak," tambah Tini Handonowari.
Tini Handonowari juga menyebut Padepokan Seni Bagong Kussudiardja membuka gerbang selebar-lebarnya untuk anak-anak atau siapa saja, tua-muda, yang ingin belajar seni tari. Latihan digelar setiap Kamis dan Minggu di sanggar Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, yang terletak di Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
"Harapannya anak itu harus dibekali tradisi apapun, ya dolanannya (mainan), gamelan, busananya, atau pengetahuan tentang seni tari itu sendiri. Itu bekal untuk mereka. Ketekunan, kedisiplinan dalam waktu, disiplin tempo, irama. Itu nanti terbentuk dari sana," pungkas Tini Handonowari.
Baca Juga
Wujud Komitmen Budaya, Bakti BCA Boyong Kekayaan Sumba ke BCA Expoversary 2026

