Boss Djarum Kisahkan Kantor Pusat Djarum di Kudus Dulunya Rumah Kerabat Ibu Negara Taiwan
JAKARTA, investortrust.id - Dalam acara Meet The Leaders 5 bertajuk "Djarum: A Story of Strategic Succession di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu (26/7/2025), Victor Rachmat Hartono yang saat ini juga merupakan presiden direktur Djarum Foundation dan chief operating officer (COO) PT Djarum mengungkapkan kiprah perusahaannya yang mampu meraup sukses dari generasi ke generasi. Victor menceritakan bahwa kesuksesan salah satunya berasal dari konsentrasi, termasuk dalam pembagian bisnis keluarga.
Ia mengatakan kalau seorang pebisnis dengan istri lebih dari satu, maka usahanya juga harus dibagi kepada istri-istri dan anak-anaknya. Lebih mudah mewariskan bisnis kepada satu istri. Kemudian ia mencontohkan seorang raja gula dari Semarang Oei Tiong Ham yang menjadi konglomerat pada masa pemerintahan Belanda. Kemudian gurita bisnisnya dinasionalisasi oleh pemerintah Republik Indonesia menjadi PT Rajawali Nusantara.
Victor kemudian juga mengungkapkan bahwa kantor pusat PT Djarum di Jl Ahmad Yani Kudus tadinya milik dari salah satu istri Oei Tiong Ham. Tepatnya istri yang ke-17.
"Kantornya Djarum di Kudus itu, tadinya kita beli dari nyonyah nomor 17 Oei Tiong Ham. Ada pengusaha yang namanya Raja Gula Oei Tiong Ham, mungkin pernah dengar? Sekarang sudah dinasionalisasi ee, perusahaannya menjadi PT Rajawali Nusantara, PTPN. Beliau punya kebiasaan menarik yaitu istrinya mesti koleksi gitu. Orang kan koleksi mobil antik gitu ya. Dia senang koleksi (istri) ada yang bule, ada yang Indo, ada yang Chinese, ada yang Jawa itu pokoknya banyak. Katanya 20 sekian umur ee ininya apa 20 sekian istrinya. Salah satu anaknya menjadi ibu negara, Republic of China, Tiongkok." Kata Victor.
"Istrinya Mr. Wellington Koo ini presidennya Republic of China yang sekarang Taiwan itu setelah Sun Yat-sen sebelum Cheng Kai Sek. Nah istri dari Mr Wellington Koo ini yang adalah anak dari Oei Tiong Ham, dari Semarang. Anyway, ini ya keren kan ada orang Indonesia pernah jadi ibu negara China. Banyak yang enggak tahu kan, orang Semarang tuh, Oei Hui-lan, anyway ada bukunya segala." Jelas Victor.
Menurut catatan sejarah dari buku yang berjudul "No Feast Lasts Forever" yang mengisahkan kehidupan Madame Wellington Koo atau Oei Hui-lan, Oei Tiong Ham (ayah dari Oei Hui-lan) adalah seorang pengusaha dan pedagang kaya raya di Hindia Belanda dan Timur Jauh pada awal abad ke-20. Ayah Oei Hui-lan dijuluki Sang Raja Gula karena kekayaannya yang bertumpu pada industri gula dan Oei Tiong Ham juga mengabdi kepada pemerintah kolonial Belanda sebagai Luitenant der Chinezen dan berpangkat Majoor sampai purna tugasnya.
Di Singapura, Oei Tiong Ham meninggalkan jejak dengan namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan selain sebuah taman di dekat Holland Road, yang juga diberikan nama Oei Tiong Ham sebagai penghargaan. Oei Tiong Ham pindah ke Singapura untuk menghindari pajak dan masalah hukum waris di Hindia Belanda. Di negara kota ini, Oei Tiong Ham mendapat julukan "Manusia 200 Juta", berasal dari kekayaannya yang berhasil mencapai 200 juta gulden saat kematiannya pada 1924 di Singapura. Ia kemudian dimakamkan di Semarang.
Putri Oei Tiong Ham, Oei Hui-lan menikah dengan negarawan Tiongkok pada masa pra-komunis, Wellington Koo setelah sebelumnya mengalami kegagalan pernikahan dengan agen konsuler asal Britania Raya, Beauchamp Caulfield-Stoker. Oei Hui-lan dikenal sebagai Madame Wellington Koo, sosialita internasional dan ikon gaya berdarah Tionghoa-Indonesia. Ia pernah menjadi Ibu Negara dari Republik Tiongkok dari tahun 1926 hingga 1927. Di akhir hidupnya di New York, Oei Hui-lan menerbitkan dua buku otobiografi yang ditulis oleh Mary Van Rensselaer Thayer dan Isabella Taves.
Dari istri ke-17 Oei Tiong Ham atau ibu tiri dari Oei Hui-lan inilah, Djarum membeli lahan dan bangunan yang kemudian menjadi kantor pusat dari perusahaan rokok PR Djarum di Kudus, Jawa Tengah.

