Bermodal Limbah Kosmetik, Peluang Pasar Aksesoris Wanita Kian Cantik
JAKARTA, investortrust.id - Aksesoris dan kosmetik, dua produk yang dijumpai di keseharian karena pasti digunakan oleh seluruh kaum hawa di dunia. Keduanya digunakan oleh semua umur karena para wanita ingin tampil mempesona dan fashionable. Berakar dari inilah, kebutuhan aksesoris wanita akan selalu terbuka dan memiliki tempat di segmentasi pasarnya.
Berbeda dengan aksesoris yang umurnya lebih panjang, kosmetik memiliki masa berlaku yang harus diperhatikan. Penggunaan kosmetik yang sudah kadaluarsa dapat berisiko menyebabkan iritasi. Namun dengan konsep sustainable fashion, limbah kosmetik ternyata bisa didaur ulang menjadi wujud lain yang bisa mempercantik si pemakainya.
Potensi itu diambil oleh Zara Tentriabeng dengan mendirikan Hexagon. Alumnus S1 The School of the Art Institute of Chicago dan S2 Politecnico di Milano dengan penjurusan fesyen ini mengatakan, Hexagon memiliki keunikan. Aksesoris yang dihasilkan umumnya terbuat bahan recycle kosmetik dipadukan dengan teknologi modern. Misalnya, bedak dan blush on yang kadaluarsa.
Dengan berbagai kreativitas yang dilakukan, bahan-bahan dasar tersebut kemudian diolah menjadi gelang, kalung, anting atau aksesoris dan produk fesyen lainnya. Harganya bervariasi dari Rp 170.000 sampai Rp 1 juta.
Baca Juga
Ubah Limbah Jadi Barang Cantik, Semomondeezy Bergerilya di Mancanegara
Foto: Instagram/zaratentriabengdesigns
Zara mengungkapkan sejak didirikan tahun 2014, ia melakukan berbagai alternatif pemasaran produk baik melalui platform digital maupun aktif dalam berbagai pameran dan bazaar, termasuk luar negeri.
Italia adalah pasar utama yang ia masuki, disusul Jepang, Australia, dan Amerika. Sementara untuk pasar baru yang mau dijajaki tahun ini adalah Belanda.
“Bagus sekali pasar di luar negeri. Mereka menyukai back story di belakang produk, karena ini kan recycle yah. Modelnya juga dianggap menarik dan eye catching begitu,” ujar Zara kepada Investortrust melalui sambungan telepon baru-baru ini.
Untuk omzet, ia menyebutkan tahun 2024 bisa meraih Rp 275 juta. “Tahun 2024 itu lebih baik dari 2023 karena baru recover dari Covid. Untuk tahun ini sih targetnya bisa dua kali lipat setidaknya minimal naik 25%,” kata perempuan kelahiran Surabaya, 7 September 1981 tersebut.
Raih Dukungan
Target tersebut, diyakini Zara bisa tercapai karena dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Hexagon merupakan bagian dari UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR. BRILIANPRENEUR merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan BRI, di mana seluruh rangkaian acara ini melibatkan UMKM untuk meningkatkan promosi kepada masyarakat sehingga diharapkan dapat berdampak pada peningkatan penjualan produk-produk mereka.
BRILIANPRENEUR, dikatakan konsultan fesyen itu membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk menyasar pasar internasional. Meskipun Hexagon sudah menjajal pasar Italia sejak awal berdiri, kegiatan pameran-pameran yang diikuti bisa membantu memperluas pasar ke negara lain atau konsumen baru.
Pameran yang pernah diikuti termasuk BRILianpreneur 2021 dan 2022, Inacraft 2023, Disparekraf Inacraft 2023, PPUKM ISEA, Melbourne. Usaha ini juga telah menerima penghargaan Bekraf Adiwastra 2019, dan menjadi finalis lomba perancang aksesori Femina Group 2015.
"Saya harus akui, kuratornya bagus sekali, display-nya rapi, flow-nya juga rapi sama seperti pameran di Milan, Italia. Dari pihak BRI juga relasinya sangat baik. Setelah event, masih ada kelanjutannya, misalnya nama kita di-share ke pembeli dari luar negeri,” ungkapnya.
“Pelaku UMKM sangat banyak di Indonesia, saya sudah sering juga pameran di luar, saya bisa bilang barang di Indonesia itu tidak kalah bagus. Oleh karena itu pelaku UMKM yang masih muda-muda bisa lebih diangkat lagi,” sambung Zara.
Foto: Instagram/dahliasardjono
Dahlia Sardjono, pembeli anting di Hexagon mengatakan, perkenalannya dengan merek tersebut karena Hexagon beberapa kali mengikuti pameran World Fashionpreneur Connect (WFC) Indonesia.
“Produknya unik dan saya suka Hexagon menggunakan powder bekas, eyeshadow, blush on untuk mewarnainya. Purna jualnya juga bagus, kalau ada yang rusak dibetulin gratis,” ucap Dahlia selaku Co Founder WFC Indonesia.
Daya Saing
Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BRI Amam Sukriyanto mengungkapkan, BRILIANPRENEUR merupakan inisiatif BRI untuk memperkenalkan keunikan UMKM dan produk nasabah binaannya yang memiliki daya saing tinggi.
Ajang ini katanya, menjadi salah satu langkah konkret BRI sebagai lembaga keuangan yang turut bertanggung jawab memajukan UMKM Indonesia. Pihaknya melihat adanya peluang besar bagi produk Indonesia untuk masuk ke pasar global. Hasil karya anak bangsa dinilai memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan produk dari negara-negara lain.
“Kami berharap kisah Hexagon dan UMKM lain yang berhasil go global dapat menjadi cerita inspiratif dan diikuti oleh pelaku UMKM lainnya di Indonesia,” tutur Amam.
Foto: Investortrust/Taufiq Al Hakim
Business Matching
Di kesempatan terpsiah, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, sepanjang 2025, BRI dan Kementerian Perdagangan akan melaksanakan business matching terjadwal yakni dua kali setiap bulan.
"Per hari ini bergabung 506 register buyer yang berasal dari 34 negara bersama 166 peserta UMKM yang sudah mengikuti 270 kali business matching," katanya dalam Closing Ceremony BRI UMKM EXPO(RT) 2025, Minggu (2/2/2025).
Sunarso mengatakan, tahun ini ditargetkan terjadi potensi deal pada business matching senilai US$ 89 juta atau setara Rp 1,4 triliun (kurs Rp 16.537 per dolar AS). Adapun pada diperkirakan total deal untuk ekspor diperkirakan mencapai lebih dari US$ 90,6 juta atau setara Rp 1,5 triliun. "Lebih dari Rp 1,5 triliun dan akan terus berlanjut sampai akhir 2025," sebutnya.
Ia pun mengapresiasi para pihak yang mendukung gelaran ini. Antara lain para pelaku UMKM, pembeli, mitra bisnis, hingga kementerian dan lembaga. "Tahun ini mengusung tema Broadening MSME's Global Outreach, yang mencerminkan komitmen BRI dalam membuka akses lebih luas bagi UMKM ke pasar global," jelas Sunarso.

