Para Difable Bersemangat Menembut Batas
Jakarta, investortrust.id - Gangguan penglihatan tidak membatasi para penyandang gangguan sensorik netra untuk bertualang. Lima penyandang different ability atau difable pada indra penglihatan yang bertemu di Yayasan Tuna Netra ini menjelajah taman nasional Situ Gunung di Jawa Barat.
Mereka adalah Sergio Kurnianto Rustan, Prima Nugroho, Oki, Kevin dan Lita. Tidak hanya berlima, dalam perjalanan itu para relawan mendampingi para difable dengan semangat solidaritas dan empati. Para relawan itu adalah Hasan Wongso, seorang ultra runner, Riko Louis videografer andalan Oci, Rafael yang mengabadikan kegiatan ini dengan lensanya, Nicky Hogan yang juga seorang pelari, Reza, Abah Isep pemilik Bumi Bagja Food Forest, yang menyediakan rumah makannya sebagai base camp, yang terakhir adalah mas Ambang, sesepuh petualangan luar ruang yang menjadi mentor bagi para difable ini.
Acara ini digagas oleh Sergio Kurnianto Rustan belum lama ini. Oci, panggilan akrab Sergio bukanlah orang baru di dunia petualangan. Karena kegemarannya itulah Oci mengalami low vision akibat diserang ribuan tawon saat memanjat tebing bersama rekannya empat tahun lalu. Oci selamat meski mengalami kebutaan sebagian dan rekan Oci meninggal dunia akibat serangan itu.
Trekking di alam bebas ini sangat dinikmati oleh para difable meski mereka berjalan dengan sangat hati-hati dan harus didampingi oleh relawan. Para pendamping bertugas menggambarkan secara audio bagaimana jalan di depan para difable. Tiba di danau Situ Gunung, organiser telah menyediakan rakit dengan saung dan tempat duduk untuk para difable ini sehingga mereka bisa menumpang rakit menuju ke tengah danau.
Di dalam rakit telah disediakan makan siang dan langsung disantap rombongan. Usai makan siang dan berfoto, rombongan kembali ke Bumi Bagja Food Forest untuk beristirahat. Abah Isep adalah sahabat lama Oci yang sama-sama mencintai alam dan nama Bumi Bagja bukan sekedar nama. Abah Isep memberi nama Bumi Bagia Food Forest dengan harapan semua orang merasa bahagia dari hasil yang diberikan oleh Bumi sebagai simbol tempat tinggal. Di rumah makan ini sebagian besar bahan makanan diambil di hutan di sekelilingnya karena Abah Isep ingin para tamu merasakan apa yang diberikan alam kepada manusia dan berharap manusia berbahagia atas pemberian itu dan memberikan respon yang baik kepada Bumi sebagai tempat tinggal manusia.
Bumi untuk Manusia
Pada acara makan malam, para difable diminta komentar mereka apakah mereka, melalui indra perasa dapat mengenali sayuran yang dihidangkan. Oki, salah satu peserta ditanya, "Ki, daun apa itu Ki?" Jawabnya, "Daun apa ya ini, mirip selada."
Kemudian Abah Isep memberitahu Oki bahwa yang ia makan adalah daun pohpohan yang banyak tumbuh di sekitar Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat. Salah satu peserta, Maulita Sundari memberikan komentarnya. "Pengalaman hari ini cukup mengerikan tapi juga menyenangkan. Membuat pengalaman baru bagi saya pribadi. Saya nggak kepikiran bakalan securam itu. Sempat terpikir mungkin ada seperti serigala atau lainnya, tapi ya dibuang jauh-jauh saja."
Sementara Nicky Hogan sebagai pendamping merasakan semangat dan antusiasme para difable ini. "Pengalaman pertama saya mendampingi Oki, di jalur yang landai masih bisa gandengan, tapi begitu masuk single trek, harus berjalan depan belakang. Nah di beberapa jalur saya bukan yang menuntun, tetapi Oki seperti mendorong, ingin berjalan lebih cepat lagi. Saya rasa ini semangat dan antusiasme rekan-rekan tuna netra yang merasakan pengalaman baru." ujarnya.
Keesokan hari sebelum bertolak ke Jakarta, para difable diajak menaiki dan menuruni puluhan anak tangga yang baru saja dibangun untuk memudahkan para difable ini menuju sungai yang tidak jauh dari Resort Bumi Bagja Food Forest. Meski tidak jauh, namun trek yang dilalui tidak kalah menantang dibanding saat berjalan menuju Situ Gunung. Setelah bermain di sungai mereka kembali ke Bumi Bagja untuk membersihkan diri dan bersantap sebelum berangkat kembali ke rumah masing-masing di Jakarta.
Prima Mukti Nugroho, salah satu difable dengan kategori totally blind berharap wisata difable seperti ini bisa dikembangkan sehingga makin banyak peserta difable yang dapat menikmati alam sekaligus menggerakkan perekonomian di lokasi wisata. "Lebih dari itu, perasaan bahagia yang didapat saat berwisata bisa memicu para difable untuk menjalani hidup dengan melampaui keterbatasan mereka." Pungkas Prima Mukti sebelum masuk ke dalam mobil yang membawanya ke Jakarta.

