Kisah Rumah Atsiri Indonesia dan Wewangian dari Kaki Gunung Lawu
JAKARTA, investortrust.id - Presiden RI Soekarno memiliki beberapa proyek ambisius. Salah satunya ingin memiliki pabrik minyak asensial (essential oil) atau minyak asiri terbesar se-Asia Tenggara di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Untuk mewujudkan obsesinya itu, Soekarno menjalin kerja sama dengan Bulgaria mengembangkan pabrik minyak citronella (serai wangi) pada 1963. Sayangnya, impian itu sirna. Pabrik citronella sempat terbengkalai dan beralih tangan, sebelum akhirnya diambil alih Rumah Atsiri Indonesia pada 2015. Dari sinilah, produksi wewangian dari kaki Gunung Lawu mulai dikenal.
“Kami mempertahankan visi-misi peninggalan Soekarno. Bung Karno ingin Indonesia menjadi produsen minyak esensial terkemuka, setidaknya di ASEAN," kata Supervisor Shop Rumah Atsiri Indonesia, Putri Solehah, saat ditemui investortrust.id pada gelaran BRI UMKM Expo(RT) Brilianpreneur 2023, di JCC, Jakarta, Sabtu (09/12/2023).
Baca Juga
Gelaran UMKM Expo (RT) Brilianpreneur 2023 Libatkan 700 UMKM
Putri menuturkan, Rumah Atsiri Indonesia tidak hanya menawarkan penjualan minyak asiri, sabun, parfum, dan pengharum ruangan, melainkan juga wisata edukasi. Untuk itulah, mereka mendesain pabrik peninggalan kerja sama bilateral Indonesia-Bulgaria tersebut menjadi wisata edukasi.
“Nah, konsepnya nggak menjadikan pabrik pengolahan essential oil, tapi ingin ada sisi edukatifnya. Makanya ada museumnya untuk memberikan wawasan minyak asiri yang diperoleh pabrik zaman dulu itu seperti apa,” ujar dia.
Putri mengakui, tren penggunaan minyak asiri juga tumbuh karena imbas pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, penjualan hand sanitizer dari Rumah Atsiri Indonesia melonjak.
“Kami membuat sendiri hand sanitizer dengan kandungan aloe vera (tanaman lidah buaya) yang tidak kering di kulit. Saat pandemi Covid-19, kami juga meluncurkan essential oil varian immunity yang memiliki kandungan sesuai kebutuhan dan mampu meningkatkan imunitas,” papar dia.
Saat ini, kata Putri Putri Solehah, Rumah Atsiri Indonesia mulai berekspansi menyasar pembeli di luar negeri. Ini karena minyak asiri buatan mereka mendapat respons positif saat mengikuti Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin, Jerman. “Banyak buyer dan tawaran kerja sama,” kata dia.
Baca Juga
BRI Bidik Kontrak Rp 1 Triliun pada Ajang UMKM Expo (RT) Brilianpreneur 2023
Selain dari pasar luar negeri, tawaran juga muncul dari BUMN. “KAI menggunakan produk dari Rumah Atsiri Indonesia sebagai room fragrance. Penetrasinya sekarang lebih ke parfum dan personal care,” ujar Putri.
Perubahan itu juga terjadi pada permintaan parfum. Untuk merespons pasar, Rumah Atsiri Indonesia meluncurkan eau de perfume (EDP). “Parfum terbaru kami akan meluncur pada 11 Desember 2023. Ada aroma baru bernama Rayu dan Buai,” tutur dia.
Aroma Rayu dominan fresh dan floral. Rayu merupakan campuran lavender, geranium, dan patchouli. Sedangkan Buai memiliki aroma manis berbahan kayu manis, lavender, dan vanila. “Daya tahannya kurang lebih delapan jam menyesuaikan aktivitas. Harganya Rp 95.000 untuk 10 mililiter,” kata dia.(CR-7)

