1,7 Juta Perempuan Indonesia Diprediksi Bisa Meninggal Karena Kanker Leher Rahim pada 2070, Kemenkes Lakukan Hal Ini
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan bahwa kanker leher rahim atau kanker serviks merupakan jenis kanker yang menempati peringkat kedua terbanyak pada wanita di Indonesia. Tanpa intervensi, diperkirakan lebih dari 1,7 juta perempuan di Indonesia akan meninggal karena kanker leher rahim pada tahun 2070.
Hal itu disampaikan Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Yudhi Pramono dalam kegiatan diskusi kesehatan yang bertajuk “Perempuan Indonesia Merdeka dari Bahaya Kanker Leher Rahim” di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (13/8/2024).
"Di mana untuk Indonesia sendiri, kurang lebih ada 36.000 kasus serta 20.000 kematian di tahun 2022," ujar Yudhi.
Yudhi menjelaskan, dari jumlah kasus tersebut, hampir 70% pasien yang datang atau pasien yang mengalami kanker leher rahim ini datang dengan stadium lanjut, yaitu stadium tiga hingga empat.
"Yang prognosa-nya itu buruk dan juga dari sisi pembiayaannya juga memakan biaya yang cukup besar," ungkap Yudhi.
Lebih lanjut, Yudhi menyebut, berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada tahun 2023, biaya untuk penanganan kanker mencapai Rp 5,9 triliun.
"Sehingga ini perlu kita kawal betul, agar kasus-kasus katastropik termasuk kanker ini dapat kita lakukan pencegahan dan pengendalian yang lebih baik," jelas Yudhi.
Sehubungan dengan hal tersebut, Kemenkes bekerja sama dengan sejumlah lembaga penting, telah mengembangkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim di Indonesia untuk tahun 2023-2030. Salah satu prioritas dalam pilar aksi pemberian layanan dalam RAN ini adalah imunisasi.
Menurut Yudhi, RAN Eliminasi Kanker Leher Rahim di Indonesia untuk tahun 2023-2030 merupakan respons dari masyarakat yang komprehensif untuk mengeliminasi kanker leher rahim, memberdayakan perempuan, dan membangun masyarakat yang lebih sehat.
Di sisi lain, Yudhi menuturkan, dalam upaya eliminasi kanker leher rahim di Indonesia, setidaknya ada tiga strategi. Yang pertama adalah 90% anak perempuan dan laki-laki yang berusia 15 tahun menerima vaksinasi.
"Kemudian, 75% dari seluruh wanita usia 30 sampai 69 tahun menjalani screening dengan high performance test (HPV DNA)," kata Yudhi.
Selanjutnya yang ketiga, yakni 90% wanita yang teridentifikasi yang menderita lesi pra kanker serviks dan kanker menerima pengobatan sesuai standar.
Guna mencapai tujuan RAN Eliminasi Kanker Leher Rahim di Indonesia, lanjut Yudhi, diperlukan upaya berkelanjutan dan peran aktif para pemangku kepentingan multisektoral dalam membangun kesadaran di masyarakat.
"Indonesia telah berkomitmen melalui Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly atau WHA) tentang pentingnya pendekatan sistem holistik dalam upaya pencegahan dan pengendalian kanker leher rahim, mengintegrasikan program imunisasi, program screening, dan tata laksana dalam layanan kesehatan remaja, HIV, kesehatan seksual reporoduksi, layanan kesehatan penyakit menular dan tidak menular, serta pentingnya kemitraan nasional, regional, dan global yang inklusif dan strategi dari sektor diluar kesehatan," kata Yudhi.
Sebagai informasi, memahami itu, PT Merck Sharp & Dohme Indonesia (MSD Indonesia) bersama Kemenkes dan Bio Farma mengajak keterlibatan banyak pihak untuk mencegah penyebaran kanker leher rahim melalui kampanye edukasi kesehatan “Tenang untuk Menang”.
Di mana, kegiatan ini dimulai dengan mengusung tema “Perempuan Indonesia Merdeka dari Bahaya Kanker Leher Rahim” yang digelar pada hari ini, Selasa (13/8/2024) di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta.
Turut hadir pada sesi diskusi dalam acara ini, perwakilan dari pemangku kepentingan sektor pemerintah dalam RAN Eliminasi Kanker Leher Rahim, di antaranya Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Kementerian Keuangan, Kementerian Agama, dan Pimpinan Komisi IX DPR.

