Profil Francesco Farioli, Sarjana Filsafat Pelatih Baru Ajax Amsterdam
AMSTERDAM, investortrust.id – Ajax Amsterdam membuat kejutan dengan menunjuk pemuda Italia berusia 35 tahun sebagai pelatih. Dia adalah Francesco Farioli, seorang Sarjana Filsafat dari University of Florence.
Francesco Farioli secara resmi ditunjuk sebagai pelatih Ajax Amsterdam dengan kontrak berdurasi tiga tahun. Dia akan menjadi orang Italia pertama yang mengambil alih posisi pelatih di tim terbesar Belanda.
“Saya sangat senang berada di sini di Amsterdam. Bersama dengan anggota staf saya yang lain, kami akan bekerja dengan rajin. Kami ingin kembali ke dasar dan terhubung dengan apa yang diperjuangkan Ajax sebagai sebuah klub. Kami juga ingin menghadirkan energi baru serta cara bekerja dan berpikir positif,” kata Francesco Farioli, di situs resmi Ajax Amsterdam.
“Saya sadar masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Tapi, kami sudah mulai bersiap. Kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Jadi, kami sekarang bersiap untuk memulai musim, dan membawa Ajax kembali ke tempat seharusnya,” beber Francesco Farioli.
Baca Juga
Umumkan Skuad Sementara Italia di Euro 2024, Luciano Spalletti Panggil 3 Nama Tanpa Caps
Lalu, siapa Francesco Farioli ini sebenarnya? Francesco Farioli memang bukan sosok pelatih Italia populer seperti Carlo Ancelotti atau Antonio Conte.
Lahir di Barga, 10 April 1989, Francesco Farioli bukan mantan pemain terkenal. Dia hanya sempat bermain sebagi kiper di tim amatir yang kemudian mengawali karier sepak bola sebagai pelatih penjaga gawang bersama klub kecil, Margine Coperta, pada 2009-2011.
Francesco Farioli kemudian menjadi pelatih kiper di klub Serie D, Fortis Juventus, dan Lucchese (Serie C). Lalu, pindah ke Qatar bersama Aspire Academy. Kemudian, Roberto de Zerbi mengajak Francesco Farioli menjadi pelatih kiper di Benevento pada musim 2017/2018 dan Sassuolo pada 2018-2020.
Francesco Farioli selanjutnya memilih karier sebagai pelatih di Turki bersama Alanyaspor dan Fatih Karagumruk. Saat itu, dia menjadi pelatih sepak bola termuda di kompetisi profesional Eropa dalam usia 31 tahun.
Karier Francesco Farioli berlanjut pada 30 Juni 2023 saat ditawari bergabung dengan klub Ligue 1, Nice. Dia menandatangani kontrak dua tahun dan kini adalah pelatih Ajax Amsterdam.
Baca Juga
Resmi! AC Milan dan Stefano Pioli Berpisah Setelah Pertandingan Terakhir
Terinspirasi Albert Camus dan Fyodor Dostoevsky
Selain sempat menjadi pelatih termuda di sepak bola profesional Eropa dalam usia 31 tahun, Francesco Farioli juga punya latar belakang pendidikan cukup unik dan berbeda dari kebanyakan pelatih. Dia adalah Sarjana Filsafat dari University of Florence, Italia. Di sana, dia lulus dengan nilai 105 dari maksimal 110.
Ketika kuliah, Francesco Farioli menulis tesis tentang sepak bola dalam sudut pandang filsafat, khususnya di posisi penjaga gawang. Tulisannya berjudul: “Filosofia del Gioco: L’estetica del Calcio e il Ruolo del Portiere” (Filsafat Permainan: Estetika Sepak bola dan Peran Penjaga Gawang).
Dalam kacamata Francesco Farioli, penjaga gawang memiliki visi permainan unik. Posisi ini lebih luas dan memiliki lebih banyak waktu untuk mengamati apa yang terjadi di lapangan dibandingkan pemain lain.
Posisi tersebut membuat penulis terkenal Prancis Albert Camus terpesona. Dia adalah seorang penjaga gawang yang tajam di masa mudanya, yang kemudian membuatnya mendapat cemoohan dari sesama sastrawan, Jean-Paul Sartre. Karya-karya Albert Camus bertemakan irasionalitas dan absurditas. Dia bersikeras bahwa apa yang dia ketahui tentang sifat manusia muncul melalui pembelajaran sepak bola.
Mengambil inspirasi dari Albert Camus dan Fyodor Dostoevsky, Francesco Farioli membuat tesis tentang bagaimana sepak bola lebih dari sekedar permainan. Itu adalah cerminan kehidupan itu sendiri dan metafora kehidupan.
Dalam tesisnya, Francesco Farioli menulis tentang penjaga gawang dan asal usul sepak bola. Dia juga mengambil berbagai pelatih hebat seperti Pep Guardiola, Carlo Ancelotti, hingga Antonio Conte sebagai contoh.
Francesco Farioli menyebut, tidak hanya para pelatih, melainkan juga para filsuf, penggemar, dan idealis mempunyai tujuan yang sama, yaitu fokus pada apa yang tepat untuk tim. Dia menggambarkan lapangan sepak bola sebagai tempat aturan dan praktik keindahan Bersatu untuk satu tujuan.
Baca Juga
Jumpa Manchester United di Final Piala FA, Phil Foden Ingin Lengkapi Musim dengan Trofi

