Ada Masalah Apa? Fenerbahce Mainkan Tim U-19 dan WO di Final Piala Super Turkiye
SANLIURFA, investortrust.id – Pemandangan aneh terjadi pada final Piala Super Turkiye di Sanliurfa GAP Stadium, Senin (8/4/2024) dini hari WIB. Galataray menerima gelar juara setelah sang lawan, Fenerbahce, hanya menurunkan tim U-19 dan WO saat pertandingan berjalan kurang dua menit. Ada masalah apa?
Final Piala Super Turkiye musim ini mempertemukan pertandingan dua tim berseteru, Galatasaray vs Fenerbahce. Ini duel panas layaknya Barcelona vs Real Madrid.
Namun, tidak seperti biasanya, pertandingan kali ini tanpa ketegangan. Yang muncul justru kontroversi. Sebab, pertandingan baru berjalan sekitar 50 detik, Mauro Icardi langsung menjebol gawang Fenerbahce. Lalu, saat waktu menunjukkan 1 menit 41 detik, Fenerbahce mendadak mundur.
Baca Juga
Juventus Kembali ke Jalur Kemenangan Serie A, Massimiliano Allegri Tetap Waspada
Para pemain Fenerbahce, yang semuanya personel U-19, bersama-sama meninggalkan lapangan. Kemudian, Galatarasay menerima trofi dan melakukan game internal untuk menghibur fans yang sudah terlanjur datang.
Apa yang sebenarnya terjadi? Aksi ini merupakan bentuk protes Fenerbahce kepada Asosiasi Sepak Bola Turki (TFF) terkait serangan yang dilakukan suporter Trabzonspor pada 17 Maret 2024.
Serangan itu membuat Trabzonspor dihukum larangan bermain tanpa penonton enam kali. Tapi, jumlahnya dikurangi menjadi empat setelah banding. Dua pemain Fenerbahce dihukum larangan bermain satu kali.
Keputusan itu membuat Fenerbahce marah. Mereka menganggapnya tidak benar. Mereka mengancam akan meninggalkan Liga Turkiye untuk bergabung dengan liga lain yang lebih manusiawi. Protes kembali mereka tunjukkan pada final Piala Super Turkiye.
“Perlawanan kami hari ini, sikap kami di Piala Super, bukan hanya tentang tanggal pertandingan atau apa yang terjadi di pertandingan tandang terakhir (melawan Trabzonspor),” ujar Presiden Fenerbahce Yildirim Ali Koc, dilansir BBC Sport.
“Ini saatnya sepak bola Turki melakukan start ulang. Kami berada dalam periode ketika rawa harus dikeringkan, dan sepak bola Turki harus membangun kembali dirinya sendiri. Tidak perlu mengubah arah,” tambah Yildirim Ali Koc.
“Saya harap perlawanan yang dilakukan klub kami akan memicu proses pembersihan yang perlu dilakukan. Inilah saatnya ketidakberpihakan, persaingan sehat, dan etika olahraga harus dikedepankan,” pungkas Yildirim Ali Koc.
Baca Juga
Momen Langka di Liga Belanda, Ajax Amsterdam Dibantai Feyenoord 6 Gol Tanpa Balas

