Cerita Keajaiban yang Dialami Dokter Indonesia di Medan Perang
JAKARTA, investortrust.id – Di balik kepahlawanan dan pengabdiannya, dokter Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C, telah menyaksikan keajaiban hidupnya yang penuh liku dan tantangan. Salah satu kisah menakjubkan terjadi saat dia berada di Afghanistan pada 2002.
Dokter Sarbini dan tim medisnya berjumlah tiga orang bertugas di Afghanistan untuk memberikan pengobatan di Provinsi Zabul, suatu wilayah yang sulit dijangkau. Di tengah perjalanan, mereka diberhentikan oleh polisi dan militer lokal.
"Mereka mengatakan untuk jangan melewati jalur ini karena 1 kilometer di depan ada pertempuran antara Taliban dan Amerika," ucap Sarbini yang akrab disapa 'dr Ben' ini kepada Investortrust.id dalam Media Briefing Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia pada Jumat, (10/11/2023).
Untuk menghindari risiko yang tak terduga, sopir yang membawa kendaraan sengaja memilih jalur-jalur melewati gurun yang tidak lazim. Mereka mengarungi medan yang sulit dan tak terjamah untuk mencapai tujuan mereka.
Baca Juga
Namun, sembari menyelesaikan misi pengobatan, kehidupan mereka hampir saja berakhir tragis. Sarbini mengambil perumpamaan bahwa kehidupan di Zabul layaknya perjalanan ke masa silam di abad-18. Karena telepon yang masih belum masuk ke daerah itu, mereka berkomunikasi memakai telepon satelit.
"Sebenarnya kami sudah diingatkan untuk tidak menelepon lama-lama. Namun, salah satu dokter mungkin sedang rindu pada keluarga menelepon dengan memakai bahasa daerah. Ternyata karena bahasa yang berbeda itu dianggap Amerika sebagai bahasa sandi. Tak menunggu waktu lama, kami mendengar tiga helikopter militer ada di atas rumah sakit," ceritanya mengingat kengerian itu.
Mereka bertiga lalu berpelukan sambil berdoa. Bagaikan mukjizat, ketiga helikopter itu hanya berkeliling lalu berbalik arah menganggap tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Keajaiban kembali datang ketika saat Sarbini dan tim kembali dari wilayah itu ke Afghanistan. Pasukan Afghanistan kembali memberhentikan rombongan. Pasukan tersebut memberitahu mereka bahwa jalur yang baru saja mereka lewati saat menuju ke wilayah tersebut tengah dalam proses pembersihan ranjau.
"Bisa dibayangkan betapa kagetnya kami saat itu. Masih bertanya-tanya mengapa kami tidak meledak padahal baru beberapa hari lalu melewati rute itu," tuturnya sembari bersyukur.
Baca Juga
Perang di Gaza, Israel Diperkirakan ‘Bakar Duit’ Sekitar Rp 800 Triliun
Lebih dari 20 tahun menjadi relawan di MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Aceh, 1995 ini juga bertugas di Irak (2003), Lebanon (2006), dan Palestina (2009).

