Lebih Dari Sepak Bola! Alasan Fans Argentina Selalu Menyanyikan Lagu Malvinas
Poin Penting
|
ATLANTA, investortrust.id – Pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris bukan sekadar duel memperebutkan tiket ke final. Di balik rivalitas dua raksasa sepak bola itu, tersimpan sejarah panjang yang membuat setiap pertemuan keduanya selalu sarat emosi, terutama bagi publik Argentina.
Jelang laga di Atlanta Stadium, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB, para pemain Argentina kembali menyanyikan lagu tentang Kepulauan Malvinas, nama yang digunakan Argentina untuk menyebut Kepulauan Falkland di Atlantik Selatan.
Lirik lagu tersebut berbunyi: "Untuk Malvinas, untuk Diego, untuk yang terakhir bagi Leo”. "Diego" merujuk kepada legenda sepak bola Diego Maradona. Sedangkan "Leo" mengacu pada Lionel Messi yang diperkirakan menjalani Piala Dunia terakhir dalam kariernya.
Baca Juga
Semifinal Piala Dunia 2026, Marc Guehi Sebut Argentina Lebih Tertekan Ketimbang Inggris
Bagi banyak orang, nyanyian itu dianggap sebagai sindiran kepada Inggris. Tapi, bagi masyarakat Argentina, lagu tersebut memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar rivalitas sepak bola.
Kepulauan Falkland atau Kapulauan Malvinas merupakan wilayah di Samudera Atlantik yang berada di bawah pemerintahan Inggris sejak 1833. Argentina mengklaim wilayah tersebut sebagai bagian dari kedaulatannya. Lalu, pada 1982 pecah Perang Malvinas, yang berlangsung 74 hari.
Perang untuk memperebutan gugusan kepulauan karang itu menewaskan 907 orang, terdiri atas 649 personel militer Argentina, 255 tentara Inggris, serta tiga warga sipil Kepulauan Malvinas. Hingga kini, kenangan atas perang tersebut masih menjadi bagian penting dari identitas nasional Argentina.
Sebelum laga persahabatan melawan Zambia pada Maret 2026, para veteran Perang Malvinas bahkan diundang masuk ke lapangan bersama pemain tim nasional untuk menyanyikan lagu kebangsaan Argentina.
Selain lagu tentang Malvinas, suporter Argentina juga kerap menyanyikan yel-yel: "Siapa yang tidak melompat berarti orang Inggris", dalam pertandingan sepak bola maupun konser musik. Menurut jurnalis Argentina Nicolas Rotnitzsky, nyanyian tersebut merupakan bagian dari budaya nasional, bukan semata-mata ekspresi kebencian terhadap Inggris.
"Ini bukan soal kebencian. Lagu itu menjadi bagian dari identitas kami sebagai bangsa. Kami ingin menunjukkan siapa diri kami," kata Rotnitzsky kepada BBC Sport.
Gelandang Argentina Rodrigo de Paul juga menegaskan bahwa lagu tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para pahlawan perang, bukan pesan politik. "Ini lebih ditujukan kepada para pahlawan kami. Isu Malvinas seharusnya dibahas di tempat lain, bukan di pertandingan sepak bola," ujar De Paul.
Namun, sulit memisahkan politik dari setiap pertemuan Argentina dan Inggris. Bahkan pemerintah kedua negara masih berbeda pandangan mengenai status Kepulauan Malvinas.
Pemerintah Argentina kembali menegaskan bahwa penduduk Malvinaas merupakan populasi yang ditempatkan Pemerintah Inggris sebagai warga negara pendudukan. Sebaliknya, Pemerintah Inggris menegaskan warga Falkland adalah warga negara Inggris yang berhak menentukan masa depan mereka sendiri.
Rivalitas sepak bola kedua negara juga semakin membara sejak perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Saat itu, Diego Maradona mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 atas Inggris, termasuk gol kontroversial yang dikenal sebagai "Gol Tangan Tuhan" serta gol spektakuler yang kemudian dijuluki Goal of the Century.
Sejak laga bersejarah tersebut, kedua negara kembali bertemu pada Piala Dunia 1998. Saat itu David Beckham mendapat kartu merah sebelum Inggris akhirnya kalah melalui adu penalti. Empat tahun berselang, Beckham membalas dengan mencetak gol kemenangan 1-0 lewat tendangan penalti pada Piala Dunia 2002.
Pertemuan terakhir kedua negara terjadi dalam laga persahabatan pada 2005 yang dimenangkan Inggris 3-2 di Jenewa, Swiss.
Rivalitas Argentina dan Inggris juga pernah menjadi perhatian FIFA. Pada 2014, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) didenda £20.000 (Rp440 juta) setelah para pemain membentangkan spanduk bertuliskan "Malvinas adalah milik Argentina" sebelum laga persahabatan melawan Slovenia.
Namun, FIFA hingga kini belum pernah memberikan sanksi khusus terhadap lagu-lagu bertema Malvinas yang dinyanyikan para pemain maupun suporter Argentina. Ini berbeda dengan UEFA. Mereka memiliki aturan yang lebih tegas terhadap simbol maupun nyanyian bernuansa politik.
Pada 2024, kapten Spanyol Alvaro Morata dan Rodri dijatuhi larangan bermain satu pertandingan setelah menyanyikan yel-yel: "Gibraltar adalah milik Spanyol", saat perayaan gelar juara Euro 2024.
Karena itu, duel Argentina kontra Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 dipastikan tidak hanya menyajikan pertarungan dua tim elite dunia, melainkan juga memperlihatkan bagaimana sejarah, identitas nasional, dan sepak bola kembali bertemu dalam satu panggung terbesar olahraga.
Baca Juga
Statistik Unik Kemenangan Spanyol Lawan Prancis di Semifinal Piala Dunia 2026
