Demam Piala Dunia Guncang Amerika
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Amerika Serikat kembali menjadi pusat perhatian dunia. Setelah terakhir kali menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1994, negeri adidaya itu kini bersiap menyambut pesta sepak bola terbesar di dunia yang resmi dimulai pada 11 Juni 2026. Namun kali ini skalanya jauh lebih besar: untuk pertama kalinya dalam sejarah, Piala Dunia diikuti 48 negara dan diselenggarakan bersama oleh tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Laporan CNBC yang tayang pada Minggu (07/06/2026) menyebutkan suasana “World Cup fever” atau demam Piala Dunia mulai terasa di seluruh Amerika Utara menjelang pertandingan pembuka. Turnamen akan berlangsung hingga 19 Juli 2026 dengan pertandingan yang membentang dari Vancouver di Kanada hingga Mexico City di Meksiko. Ini menjadi penyelenggaraan Piala Dunia pertama di Amerika Utara sejak edisi 1994 yang sukses mencatat rekor jumlah penonton. Saat itu, rata-rata lebih dari 68.000 penonton hadir di setiap pertandingan, rekor yang masih bertahan hingga kini.
Di berbagai kota tuan rumah seperti New York, Los Angeles, Dallas, Miami, Atlanta, Seattle, Houston, Kansas City, Philadelphia, Boston, dan San Francisco, suasana mulai dipenuhi atribut negara peserta, promosi sponsor global, serta berbagai festival sepak bola yang digelar menjelang kick-off. Hotel-hotel, restoran, pusat hiburan, dan sektor transportasi mulai menikmati lonjakan permintaan wisatawan domestik maupun internasional.
Messi, Mbappe, dan Mimpi Amerika
Demam Piala Dunia kali ini semakin besar karena kemungkinan menjadi panggung terakhir bagi sejumlah ikon sepak bola dunia seperti Lionel Messi, sekaligus menjadi ajang unjuk kemampuan generasi baru yang dipimpin Kylian Mbappé (Perancis) , Jude Bellingham (Inggris), Lamine Yamal (Spanyol), Nico Paz (Argentina), Arda Güler (Turkiye), dan Endrick (Brasil), dan sejumlah bintang muda lainnya.
Amerika Serikat sendiri datang dengan ambisi besar. Setelah menjadi salah satu tuan rumah, tim nasional AS berharap mampu mengulang atau bahkan melampaui pencapaian perempat final yang mereka raih pada Piala Dunia 2002.
Media olahraga AS seperti ESPN dan The Athletic melaporkan bahwa penjualan tiket pertandingan di sejumlah kota tuan rumah telah mencapai tingkat okupansi yang sangat tinggi. Federasi Sepak Bola Internasional, FIFA, sebelumnya memperkirakan turnamen ini akan menjadi Piala Dunia dengan jumlah penonton langsung terbesar sepanjang sejarah.
Tidak Spektakuler
Meski demam sepak bola sangat terasa, dampak ekonominya diperkirakan tidak sebesar yang dibayangkan sebagian pihak. Menurut analisis yang dikutip CNBC, baik Goldman Sachs maupun Deutsche Bank memperkirakan sektor yang paling diuntungkan adalah perusahaan barang konsumsi, ritel, hotel, restoran, dan industri hiburan di Amerika Serikat maupun Eropa.
Namun Goldman Sachs mengingatkan bahwa pengalaman berbagai Piala Dunia sebelumnya menunjukkan dampak makroekonomi terhadap negara tuan rumah biasanya tidak terlalu besar dan cenderung bersifat sementara.
Fenomena serupa terlihat pada Piala Dunia Qatar 2022 maupun Brasil 2014. Aktivitas ekonomi melonjak menjelang dan selama turnamen berlangsung, tetapi tidak selalu menghasilkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang signifikan.
Meski demikian, sejumlah kota tuan rumah di Amerika diperkirakan menikmati lonjakan penerimaan pariwisata, belanja konsumen, dan pendapatan pajak daerah selama lebih dari satu bulan pelaksanaan turnamen.
Selain sektor pariwisata, industri taruhan olahraga diperkirakan menjadi salah satu pemenang terbesar Piala Dunia 2026. Analis Deutsche Bank menilai platform taruhan olahraga dan pasar prediksi akan menikmati lonjakan transaksi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga
Kejutan Jelang Piala Dunia 2026, Prancis Dikalahkan Pantai Gading di Kandang
Berbeda dengan Piala Dunia sebelumnya, edisi 2026 menjadi turnamen pertama yang berlangsung ketika platform prediksi seperti Polymarket dan Kalshi telah menjadi pemain besar dalam ekosistem taruhan olahraga global.
Pertarungan antara bandar taruhan tradisional dan pasar prediksi berbasis teknologi diperkirakan menjadi salah satu cerita menarik di luar lapangan.
Rumah Sepak Bola
Bagi Amerika Serikat, Piala Dunia 2026 memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar olahraga. Selama puluhan tahun, sepak bola selalu berada di bawah bayang-bayang American football, basket, baseball, dan hoki. Namun dalam satu dekade terakhir, popularitas sepak bola meningkat pesat, didorong oleh pertumbuhan liga domestik MLS, masuknya pemain-pemain bintang dunia, serta meningkatnya minat generasi muda.
Kedatangan Messi ke klub Inter Miami CF sejak 2023 menjadi salah satu katalis terbesar. Kehadiran legenda Argentina tersebut membuat penjualan tiket, hak siar, dan merchandise sepak bola di AS melonjak tajam.
Banyak pengamat menilai Piala Dunia 2026 dapat menjadi momentum yang mengubah posisi sepak bola dari olahraga alternatif menjadi salah satu olahraga arus utama di Amerika.
Tak Sekadar Sepak Bola
Menariknya, pekan pembukaan Piala Dunia juga bertepatan dengan sejumlah agenda besar dunia bisnis dan teknologi. CNBC mencatat perhatian investor akan terbagi antara Piala Dunia, London Tech Week yang membahas perkembangan AI, konferensi pasar privat SuperReturn di Berlin, keputusan suku bunga European Central Bank, hingga penawaran saham perdana raksasa antariksa SpaceX yang dijadwalkan melantai di bursa pada Jumat (12/06/2026).
Namun untuk beberapa pekan ke depan, sorotan utama dunia tampaknya tetap akan tertuju pada stadion-stadion di Amerika Utara. Jika pada 1994 Amerika hanya menjadi penyelenggara yang sukses, maka pada 2026 negeri itu ingin membuktikan diri sebagai salah satu pusat baru sepak bola dunia. Dan dari antrean tiket, lonjakan reservasi hotel, hingga membanjirnya atribut tim nasional di berbagai kota besar, demam Piala Dunia sudah mulai terasa jauh sebelum peluit pertama dibunyikan.

